Teknologi yang Belajar dari Petani, Empat Cerita di Balik OSPIT

Newsroom

Teknologi yang Belajar dari Petani, Empat Cerita di Balik OSPIT

“Kalau dulu sebelum ada teknologi, nyiram dulu baru ngopi, setelah ada teknologi ini bisa nyiram sambil ngopi.”

Kalimat Lisman, petani di Ciracap, mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik candaan tentang menyiram tanaman sambil menikmati kopi itu, tersimpan gambaran paling konkret tentang apa yang terjadi ketika teknologi benar-benar sampai ke lahan yaitu pekerjaan menjadi lebih ringan, waktu menjadi lebih efisien, dan petani memiliki ruang untuk melakukan aktivitas lain.

Pengalaman Lisman hanyalah satu dari empat cerita yang muncul dalam penerapan OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools) di berbagai komunitas. Di Ciptagelar, Sumba Barat Daya, Lombok Utara, dan Ciracap, teknologi yang sama bertemu dengan kondisi lahan, jenis tanaman, kebutuhan air, serta kebiasaan masyarakat yang berbeda.

Karena itu, OSPIT tidak sekadar berbicara tentang irigasi otomatis. Ia juga berbicara tentang bagaimana teknologi belajar menyesuaikan diri dengan penggunanya.

Cerita tersebut dibagikan dalam kegiatan Diseminasi Program WACC-APC: Pemanfaatan Teknologi untuk Ketahanan Iklim yang berlangsung di Bandung, 19 Agustus 2026. Dalam sesi berbagi pengalaman, Koordinator Teknis Jaringan Desa (Jarindes) Gelaralam Wildan Hidayatullah memaparkan pengembangan HERMES, sementara Chief Executive Officer Pakebun Toni Prabowo berbagi pengalaman pengembangan dan penerapan OSPIT. Pengalaman keduanya kemudian dilengkapi cerita langsung dari empat petani pengguna teknologi di empat lokasi berbeda.


Sebelum berbicara tentang irigasi, Wildan Hidayatullah mengajak peserta melihat persoalan lain yang juga dihadapi komunitas di wilayah perdesaan dan terpencil soal komunikasi. Melalui HERMES (High Frequency Emergency and Rural Multimedia Exchange System), Wildan mengembangkan sistem komunikasi digital berbasis radio HF (High Frequency). Sistem tersebut memperluas fungsi radio HF konvensional yang selama ini digunakan untuk komunikasi suara menjadi sarana untuk bertukar pesan teks, dokumen, foto, hingga rekaman audio, tanpa bergantung pada jaringan seluler maupun internet komersial.

Yang menarik, HERMES tidak hadir dengan menggantikan seluruh infrastruktur yang telah dimiliki masyarakat. Sistem ini justru memanfaatkan infrastruktur radio HF yang sudah ada, lalu menambahkan kemampuan digital melalui koneksi Wi-Fi lokal dengan smartphone, tablet, atau komputer. Wildan juga membawa proses pengembangan tersebut keluar dari ruang teknis. Ia melakukan sosialisasi dan diskusi dengan komunitas radio, pemangku adat Gelaralam dan Ciptagelar, hingga nelayan. Proses tersebut menjadi ruang untuk memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dalam konteks yang berbeda sekaligus mengenali tantangan adaptasinya.

Dalam konteks itu, pendekatan Wildan memperlihatkan satu prinsip penting. “Teknologi tidak selalu harus menggantikan apa yang sudah dimiliki komunitas. Teknologi dapat tumbuh dari infrastruktur, pengetahuan, dan pengalaman yang telah mereka kenal,” tegas Wildan.

Prinsip serupa kemudian terlihat dalam pengembangan OSPIT. Menurut Toni Prabowo, pengembangan irigasi pintar merupakan salah satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim di wilayah pedesaan dan terpencil. Namun, Toni tidak menempatkan pemasangan perangkat sebagai akhir dari proses. Ia menekankan pentingnya transfer pengetahuan kepada komunitas dan mitra lokal, terutama mengenai pengoperasian, pemeliharaan, dan basic troubleshooting. “Dengan cara tersebut, komunitas diharapkan mampu mengelola sistem secara mandiri dan berkelanjutan setelah proses deployment selesai,” jelas Toni.


Pendekatan tersebut menjadi penting karena adopsi teknologi di wilayah pedesaan dan terpencil tidak bisa dilakukan dengan satu pola yang sama. Materi OSPIT mencatat bahwa keterbatasan keterampilan teknis dan literasi digital membuat proses adopsi perlu dikembangkan secara bertahap, sebab setiap komunitas memiliki tingkat keterampilan, pengetahuan, kebutuhan, tantangan, dan harapan yang berbeda. Karena itu, Toni bersama tim tidak hanya menguji apakah OSPIT dapat bekerja secara teknis. Mereka juga membawa perangkat tersebut ke empat lokasi dengan karakteristik berbeda.

Di Lombok Utara, OSPIT digunakan untuk irigasi tetes pada lahan anggur seluas 400 meter persegi. Di Ciracap, sistem yang sama digunakan untuk melon pada lahan seluas 400 meter persegi. Sementara di Ciptagelar dan BLK Don Bosco Sumba Barat Daya, OSPIT diterapkan untuk tanaman sayuran dengan luas lahan masing-masing 300 dan 200 meter persegi. Seluruh proses instalasi dilaporkan selesai dengan baik. Tetapi angka-angka tersebut belum menceritakan bagaimana teknologi itu benar-benar bekerja dalam kehidupan petani.

Supriadi Patrio, Ciptagelar: Teknologi di Tengah Ritme Kehidupan Adat

Bagi Supriadi Patrio yang akrab disapa Apri, di Ciptagelar teknologi pertanian merupakan sesuatu yang relatif baru. Masyarakat Ciptagelar memiliki tradisi pertanian haraka, yakni kegiatan pertanian berskala besar dan musiman dengan komoditas seperti labu dan jagung. Aktivitas bertani juga harus berjalan berdampingan dengan berbagai kegiatan adat yang memiliki ritme tersendiri. Setelah musim tanam padi, misalnya, berbagai aktivitas adat dapat menyita waktu masyarakat dan pada saat yang sama membatasi waktu yang tersedia untuk kegiatan pertanian. Dalam situasi tersebut, OSPIT membantu Apri dan komunitas menjalankan kegiatan pertanian dengan lebih fleksibel.


“Teknologi seperti OSPIT membantu kami menjalankan kegiatan pertanian di tengah aktivitas adat yang cukup padat,” ujar Apri. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat teknologi tidak hanya berkaitan dengan efisiensi air, tetapi juga dengan bagaimana teknologi dapat mengikuti ritme kehidupan komunitas. Pengalaman tersebut kemudian mendorong rencana untuk mengembangkan kebun demonstrasi dan percobaan di Ciptagelar. Bagi Apri, teknologi yang awalnya terasa baru mulai menjadi sesuatu yang dapat dipelajari dan dikembangkan bersama.

Herdrikus Mikku Ate, BLK Don Bosco: Dari Menggunakan Menuju Mereplikasi

Di BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya, cerita OSPIT bergerak sedikit lebih jauh. Herdrikus Mikku Ate atau Edi tidak hanya melihat OSPIT sebagai perangkat yang dapat digunakan di satu lahan. Ia melihat peluang untuk mempelajari bagaimana teknologi tersebut dibuat dan kemudian mengembangkannya di tempat lain. “Kami mulai melihat OSPIT bukan hanya sebagai perangkat yang digunakan di satu lahan, tetapi sebagai teknologi yang bisa kami pelajari dan kembangkan untuk tempat lain,” ujar Edi.


Rencana tersebut mendorong Edi melibatkan dua perguruan tinggi karena komunitas memiliki rencana untuk mereplikasi pembuatan OSPIT. BLK Don Bosco juga diarahkan untuk menjadi salah satu pusat pelatihan. Namun, proses tersebut menghadapi tantangan. Biaya instalasi OSPIT yang relatif tinggi menjadi salah satu persoalan ketika teknologi hendak direplikasi. Keterlambatan pengiriman sejumlah perangkat juga sempat memengaruhi proses instalasi.

Di sisi lain, pengalaman menggunakan OSPIT membuka kesempatan untuk meningkatkan kemampuan teknis. Sistem di BLK Don Bosco bahkan telah dapat dioperasikan secara jarak jauh melalui telepon seluler. Dengan demikian, pengalaman Sumba menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat. Komunitas juga dapat berkembang menjadi pihak yang mempelajari, mengajarkan, bahkan berpotensi mereplikasi teknologi tersebut.

Saptahandi, Lombok Utara: Ketika Air Menjadi Persoalan Utama

Bagi Saptahandi atau Sandi di Lombok Utara, persoalannya jauh lebih mendasar yaitu air. Komunitas petani yang telah ia jalankan sejak 2019 mengembangkan berbagai komoditas, mulai dari pisang dan kelengkeng hingga anggur. Harapan terhadap kebun cukup besar, tetapi musim kemarau dan keterbatasan irigasi sering menjadi hambatan. Sebelum menggunakan OSPIT, penyiraman belum dilakukan secara konsisten. Kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap perawatan tanaman.


“Sebelum menggunakan OSPIT, penyiraman belum konsisten karena kami menghadapi persoalan air, terutama ketika musim kering,” ujar Sandi.Pelatihan yang diberikan kemudian membantu Sandi memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dalam perawatan tanaman. Baginya, setelah menggunakan OSPIT kebutuhan air dan kelembapan tanaman bisa lebih terjaga sehingga tanaman anggur dapat tumbuh dan berbuah dengan baik.

Di Lombok Utara, manfaat OSPIT akhirnya dapat dilihat langsung pada tanaman. Sistem irigasi tetes yang diterapkan di lahan anggur memungkinkan kebutuhan air tanaman dikelola dengan lebih teratur. Cerita Shandi juga memperlihatkan bahwa teknologi irigasi pintar tidak bisa dilepaskan dari karakter tanaman dan kondisi media tanam. Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda, sehingga sistem harus dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Lisman, Ciracap: Nyiram Sambil Ngopi

Lalu ada Ciracap. Di sana, Lisman mengelola tanaman melon. Persoalan yang ia rasakan bukan hanya kebutuhan air, tetapi juga waktu yang harus dikeluarkan untuk melakukan penyiraman. Setelah OSPIT diterapkan, proses tersebut menjadi lebih cepat. Namun, Lisman memilih menjelaskannya dengan cara yang jauh lebih sederhana daripada istilah smart irrigation, IoT, atau otomasi. “Kalau dulu sebelum ada teknologi, nyiram dulu baru ngopi, setelah ada teknologi ini bisa nyiram sambil ngopi,” ungkap Lisman berkelakar.


Kalimat tersebut mungkin menjadi cara paling mudah untuk menjelaskan manfaat teknologi. Sebelumnya, penyiraman menjadi pekerjaan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Setelah OSPIT digunakan, pekerjaan tersebut dapat berjalan lebih efisien sehingga Lisman memiliki waktu untuk melakukan aktivitas lain. Di titik ini, teknologi yang rumit di balik OSPIT menjadi sangat sederhana, petani mendapatkan kembali sebagian waktunya.

Empat pengalaman tersebut menunjukkan bahwa OSPIT tidak bekerja dalam ruang yang seragam. Di Ciptagelar, teknologi bertemu dengan ritme pertanian dan kehidupan adat. Di Sumba Barat Daya, teknologi berkembang menjadi peluang pembelajaran dan replikasi. Di Lombok Utara, OSPIT menjawab persoalan konsistensi penyiraman di tengah keterbatasan air. Sementara di Ciracap, manfaatnya terasa melalui efisiensi waktu. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pengembangan.

Penggunaan sistem OSPIT mencatat bahwa jenis tanaman dan media tanam memengaruhi kebutuhan penyiraman, sementara konektivitas juga dapat memengaruhi proses monitoring dan pengendalian sistem. Karena itu, teknologi tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sepenuhnya seragam. Toni dan tim kemudian mendorong pengembangan OSPIT ke arah yang lebih adaptif. Rencana berikutnya mencakup pengembangan perangkat keras yang dapat dibuat oleh komunitas lokal, perangkat lunak yang lebih inklusif melalui versi mobile dan API terbuka, serta pelatihan berjenjang yang lebih mudah dipahami.

Pengembangan perangkat juga diarahkan pada desain hardware OSPIT versi 2.0 dan produksi lokal. Sementara di sisi perangkat lunak, Pakebun mengembangkan integrasi aplikasi mobile dan web dashboard, serta mengeksplorasi pemanfaatan data dan AI sebagai alat untuk menghasilkan rekomendasi. Arah tersebut memperlihatkan bahwa tujuan akhirnya bukan sekadar membuat sistem irigasi yang semakin canggih. Tujuannya adalah membuat teknologi yang semakin mudah dipahami, dirawat, dikembangkan, dan dimiliki oleh komunitas.

Empat petani tersebut akhirnya membawa pada kesimpulan yang sama yaitu teknologi yang baik bukanlah teknologi yang paling rumit, melainkan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan nyata penggunanya. Apri membutuhkan teknologi yang dapat mengikuti ritme kehidupan komunitas. Edi membutuhkan ruang untuk belajar dan mengembangkan teknologi. Sandi membutuhkan sistem yang dapat membantu menjaga kebutuhan air tanaman. Sementara Lisman membutuhkan sesuatu yang dapat membuat pekerjaan menyiram menjadi lebih efisien.

Meski kebutuhannya berbeda, tetapi teknologi yang digunakan sama. Di sinilah pengalaman mencoba OSPIT menjadi penting. Penerapan teknologi bukanlah proses satu arah ketika perangkat dikirim, dipasang, kemudian dianggap selesai. Komunitas justru menjadi bagian dari proses untuk menguji, mempelajari, menyesuaikan, dan menentukan bagaimana teknologi tersebut seharusnya berkembang. Toni sendiri menempatkan peningkatan kapasitas komunitas sebagai bagian penting dari keberlanjutan OSPIT. Sistem harus dapat dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat setelah proses deployment selesai.

Sementara pengalaman Wildan melalui HERMES memperlihatkan prinsip yang serupa dalam konteks komunikasi yaitu memanfaatkan apa yang sudah dimiliki komunitas, lalu mengembangkan kemampuannya untuk menjawab kebutuhan baru. Pada akhirnya, ketahanan iklim tidak hanya membutuhkan teknologi yang pintar. Ia membutuhkan teknologi yang mau mendengarkan. Mendengarkan petani yang menghadapi kekeringan. Mendengarkan komunitas yang memiliki ritme adat sendiri. Mendengarkan kebutuhan untuk belajar dan mereplikasi. Mendengarkan kebutuhan sederhana untuk menghemat waktu. Karena ketika teknologi mulai belajar dari penggunanya, teknologi tidak lagi sekadar menjadi perangkat. Ia menjadi bagian dari kehidupan komunitas.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Teknologi yang Belajar dari Petani, Empat Cerita di Balik OSPIT
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more