Pertanian pintar sering kali terdengar seperti sesuatu yang jauh dari keseharian petani, sensor, Internet of Things (IoT), dashboard, otomatisasi, hingga pengolahan data akan terasa asing bagi petani. Namun, teknologi tersebut sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan yang sangat sederhana yaitu data apa yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang lebih baik di lahan?


Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu gagasan utama dalam buku Pertanian Pintar: Irigasi Otomatis Panduan Implementasi IoT di Lapangan, yang disusun oleh Rois Solihin dan M. Indra K.H. Buku tersebut diperkenalkan dalam sesi Talk Show dan Bedah Buku pada kegiatan Diseminasi Program WACC-APC: Pemanfaatan Teknologi untuk Ketahanan Iklim di Bandung, Rabu (19/8/2026). Sesi ini dimoderatori oleh Manajer Media dan Kerja Sama Common Room, Tisha Amelia. Kehadiran buku tersebut melengkapi pembahasan program WACC-APC yang sebelumnya menguji pemanfaatan teknologi untuk mendukung ketahanan iklim di tingkat komunitas. Secara khusus sesi ini diarahkan untuk membahas pertanian pintar, irigasi otomatis, serta penerapan IoT berdasarkan pengalaman di lapangan.
Bagi Rois Solihin dan M. Indra K.H., pertanian pintar tidak semestinya dipahami sebagai perlombaan menghadirkan teknologi paling canggih. Justru sebaliknya, teknologi perlu dimulai dari pemahaman terhadap kondisi lahan dan kebutuhan petani. “Teknologi harus berangkat dari kebutuhan,” ujar Rois.

Kalimat tersebut menjadi inti dari buku yang mereka susun. Dalam pendekatan yang ditawarkan, IoT bukan sekadar kumpulan perangkat yang mengirimkan data, tetapi sebuah cara untuk membantu petani memahami kondisi lahannya sebelum mengambil keputusan. Karena itu, buku ini menggunakan pendekatan low-cost, dengan komponen yang relatif mudah diperoleh, dirakit, dipelihara, dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Sasaran utamanya bukan hanya mereka yang telah menguasai teknologi, tetapi juga petani, penyuluh, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum yang ingin mulai menerapkan smart farming berbasis IoT.
Gagasannya sederhana, teknologi yang baik bukan selalu teknologi yang paling canggih, tetapi teknologi yang paling berguna. “IoT yang baik adalah yang terjangkau, dapat dirawat, dan benar-benar dipakai petani,” lanjut Rois. Dengan prinsip tersebut, penerapan IoT dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu memahami hubungan antara air, tanah, tanaman, sensor, dan data.
Salah satu persoalan dalam pertanian adalah keputusan yang sering kali masih sangat bergantung pada pengalaman, sementara kondisi lingkungan dapat berubah dengan cepat. Kapan harus menyiram? Seberapa banyak air yang dibutuhkan? Bagaimana kondisi kelembapan tanah? Apakah tanaman membutuhkan perlakuan tertentu? Sensor dapat membantu menjawab sebagian pertanyaan tersebut dengan menyediakan informasi mengenai kondisi lahan secara lebih terukur. Namun, sensor bukan tujuan akhir.
Dalam materi buku, terdapat satu prinsip yang cukup kuat yaitu data bukan tujuan, keputusan adalah nilainya. Artinya, memiliki banyak sensor tidak otomatis membuat sebuah lahan menjadi lebih pintar. Data baru memiliki nilai ketika dapat membantu petani memahami kondisi, membandingkan perubahan, lalu menentukan tindakan yang tepat. Pendekatan tersebut kemudian dirumuskan dalam tiga tahap yaitu pantau, bandingkan, dan tindak. Petani terlebih dahulu mengamati indikator penting dari lahan secara real-time, kemudian membandingkan data berdasarkan waktu, lokasi, atau perlakuan, sebelum akhirnya mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut. “Dengan cara ini, teknologi tidak menggantikan pengalaman petani. Sebaliknya, data menjadi alat untuk memperkuat pengalaman tersebut,” jelas Rois.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan buku adalah memulai penerapan teknologi dalam skala kecil. “Mulai kecil. Bangun. Uji. Belajar. Kembangkan,” lanjut Rois. Prinsip ini menjadi penting karena penerapan IoT di lapangan tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan. Kondisi tanah, cuaca, konektivitas, kualitas sensor, hingga kemampuan pengguna dapat memengaruhi kinerja sistem. Karena itu, buku ini mendorong pengguna untuk terlebih dahulu menguji satu petak atau satu komoditas sebelum memperluas sistem. Pembacaan sensor juga perlu divalidasi dengan pengamatan manual dan kondisi tanaman di lapangan. Pendekatan tersebut memungkinkan petani mengetahui apakah data yang dihasilkan perangkat benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka.
Di sisi teknis, sistem IoT low-cost yang dibahas dalam buku dapat dibangun menggunakan sensor, mikrokontroler seperti ESP32/ESP8266, koneksi Wi-Fi atau hotspot, serta platform pemantauan seperti Blynk atau Google Sheets. Sistem tersebut kemudian dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kondisi konektivitas di lapangan. Tetapi lagi-lagi, teknologi tidak berhenti pada perangkat. “Mulai dari indikator yang benar-benar dibutuhkan. Hindari terlalu banyak sensor, terlalu sedikit keputusan,” tambah Indra.
Pesan tersebut menjadi relevan terutama bagi komunitas yang memiliki keterbatasan biaya, sumber daya manusia, maupun infrastruktur. Daripada memasang banyak perangkat tanpa mengetahui manfaatnya, pendekatan yang lebih masuk akal adalah menentukan terlebih dahulu informasi apa yang benar-benar dibutuhkan untuk mengambil keputusan.

Implementasi teknologi di lahan juga membawa tantangan yang berbeda-beda. Koneksi internet tidak selalu stabil. Perangkat harus terlindung dari kondisi lingkungan. Sensor perlu dikalibrasi dan dirawat. Data yang dihasilkan juga harus diperiksa kualitasnya. Karena itu, buku ini tidak hanya membahas bagaimana membuat sistem IoT, tetapi juga bagaimana mengoperasikan dan mengembangkannya di lapangan. Salah satu tahapan yang ditawarkan adalah menentukan kebutuhan, memilih dan menguji sensor, merakit node IoT, memprogram mikrokontroler, menghubungkan perangkat dengan platform pemantauan, kemudian menguji sistem secara langsung di lahan.
Pendekatan low-budget juga bukan berarti mengabaikan kualitas. Sebaliknya, penggunaan komponen yang tersedia, modular, dan mudah diganti justru dapat membuat sistem lebih realistis untuk diterapkan dan dirawat oleh komunitas. Dalam skala yang lebih luas, pengembangan sistem dilakukan secara bertahap yaitu dari satu lokasi dan satu komoditas, kemudian beberapa node, beberapa lahan, hingga akhirnya membangun ekosistem yang melibatkan petani, penyuluh, komunitas, dan mitra.
“Skalabilitas bukan hanya menambah perangkat tetapi perlu standar data, pemeliharaan, dokumentasi, dan tata kelola yang baik,” tambah Indra. Gagasan ini memperlihatkan bahwa tantangan pertanian pintar bukan semata-mata persoalan teknologi. Ketika sistem mulai diperluas, aspek manusia, pengetahuan, pemeliharaan, dan tata kelola menjadi sama pentingnya dengan perangkat yang digunakan.
Dalam buku tersebut, penerapan IoT juga ditempatkan dalam konteks pertanian yang lebih luas. Teknologi dapat digunakan untuk mendukung berbagai praktik, mulai dari urban smart farming, akuaponik, Deep Flow Technique (DFT), pemantauan iklim mikro, pemantauan media dan nutrisi tanaman, hingga sistem irigasi otomatis seperti OSPIT. Pada titik ini, hubungan antara buku dan program WACC-APC menjadi semakin jelas. OSPIT yang dikembangkan dan diuji dalam program merupakan salah satu contoh bagaimana sensor, energi surya, konektivitas, dan sistem irigasi dapat diintegrasikan untuk membantu pengelolaan air secara lebih efisien. Program sendiri menempatkan pertanian dan irigasi pintar sebagai salah satu bagian dari model integrasi antara jaringan komunitas, sensor lingkungan, pengelolaan data, dan penguatan kapasitas SIK.

Namun, pengalaman program juga menunjukkan bahwa teknologi harus beradaptasi dengan konteks setiap lokasi. Jenis tanaman dan media tanam memengaruhi frekuensi serta pola penyiraman, sementara konektivitas menentukan sejauh mana sistem monitoring dapat digunakan secara optimal. Karena itu, pertanian pintar bukanlah tentang membuat petani bergantung pada teknologi. Justru sebaliknya, teknologi perlu dibuat cukup sederhana agar dapat dipahami, digunakan, dirawat, dan dikembangkan oleh petani.
Pada akhirnya, gagasan yang ditawarkan Rois Solihin dan M. Indra K.H. kembali pada satu hal mendasar yaitu teknologi harus memiliki manfaat nyata. Pertanian pintar dimulai dari pertanyaan sederhana mengenai data yang dibutuhkan untuk membuat keputusan lebih baik. Setelah itu, teknologi dibangun secara bertahap, diuji di lapangan, dipelajari dari pengalaman, dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan. “Kolaborasi adalah kunci. Teknologi, petani, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan harus berjalan bersama,” pungkas Rois.
Pernyataan tersebut menjadi penutup yang tepat bagi gagasan buku ini. Sebab, pertanian masa depan tidak hanya membutuhkan sensor dan otomatisasi, tetapi juga membutuhkan pengetahuan petani, pengalaman komunitas, dan kemampuan untuk membaca kondisi lokal. Dengan pendekatan tersebut, IoT dapat menjadi lebih dari sekadar teknologi. Ia menjadi alat untuk membantu petani menggunakan air dan energi secara lebih efisien, memahami kondisi lahannya secara lebih baik, dan mengambil keputusan dengan informasi yang lebih terukur. Dari sensor, menuju data. Dari data, menuju keputusan. Dan dari keputusan yang lebih baik, menuju pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.***

