Perubahan iklim tidak hanya hadir dalam bentuk kenaikan suhu atau perubahan cuaca. Bagi masyarakat di wilayah perdesaan dan terpencil, perubahan tersebut terasa dalam persoalan yang sangat sehari-hari: ketersediaan air yang semakin tidak menentu, perubahan pola musim, kebutuhan irigasi yang berbeda pada setiap tanaman, hingga ancaman bencana yang dapat mengganggu aktivitas dan mata pencaharian.
Di tengah situasi tersebut, teknologi digital menawarkan peluang untuk membantu masyarakat membaca kondisi lingkungan, mengelola sumber daya secara lebih efisien, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Namun, menghadirkan teknologi ke tengah komunitas bukan sekadar persoalan memasang perangkat atau menyediakan koneksi internet.
“Teknologi harus fleksibel terhadap kondisi lokal.” Pernyataan tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting dari Community Networks Empowerment for Climate Resilience Project, sebuah program yang dikembangkan Common Room Networks Foundation sejak 2025 dengan dukungan Association for Progressive Communications (APC) dan World Association for Christian Communication (WACC). Program ini menguji model yang mengintegrasikan jaringan internet komunitas, stasiun cuaca dan sensor lingkungan, pertanian serta irigasi pintar, pengelolaan data bersama, komunikasi darurat, dan peningkatan kapasitas melalui Sekolah Internet Komunitas (SIK).

Dalam pemaparan program pada kegiatan Diseminasi Program WACC-APC: Pemanfaatan Teknologi untuk Ketahanan Iklim di Bandung, Rabu (19/8/2026), Manajer Media dan Kerja Sama Common Room, Tisha Amelia, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari tantangan yang saling berkaitan di tingkat komunitas. “Ketersediaan air dan pola musim semakin tidak menentu,” demikian salah satu gambaran yang disampaikan Tisha dalam materinya. Di saat yang sama, adopsi teknologi pertanian masih terbatas, sementara infrastruktur listrik dan konektivitas belum merata. Kebutuhan air pun berbeda-beda, tergantung jenis tanaman dan media tanam yang digunakan.
Situasi tersebut membuat kebutuhan komunitas menjadi lebih spesifik. Mereka tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi teknologi yang masuk akal untuk digunakan dalam keseharian. “Komunitas membutuhkan teknologi yang terjangkau dan dapat dirawat secara lokal,” ujar Tisha dalam pemaparan tersebut.
Prinsip itu kemudian diterjemahkan melalui proses yang dimulai jauh sebelum perangkat teknologi dipasang. Program melakukan baseline study di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Ciracap dan Kasepuhan Gelaralam, Kabupaten Sukabumi, Desa Sukadana Lombok Utara dan BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya. Tim melakukan survei, observasi lapangan, focus group discussion, pengamatan praktik pertanian dan sumber air, serta pengumpulan data dari instansi terkait.
Pendekatan tersebut penting karena setiap komunitas memiliki konteks yang berbeda. Di Kasepuhan Gelaralam, misalnya, masyarakat terbuka terhadap teknologi selama penerapannya tetap menghormati nilai adat. Masyarakat juga telah memiliki pengalaman dengan teknologi berbasis komunitas seperti radio JARINDES, televisi adat, dan mikrohidro. Di sana, data cuaca dipandang dapat melengkapi pengetahuan serta kalender pertanian tradisional yang telah dimiliki masyarakat.

Sementara di Kecamatan Ciracap, persoalan yang ditemukan tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Kelompok tani menghadapi kendala organisasi, modal, dan pasar. Adopsi teknologi pertanian masih rendah dan fasilitas pascapanen modern juga terbatas. Pada saat yang sama, terdapat kebutuhan terhadap informasi iklim dan mitigasi bencana pesisir. “Temuan baseline menjadi dasar desain OSPIT dan pengembangan HERMES,” jelas Tisha dalam materi presentasinya. Desain teknis kemudian kembali disesuaikan melalui validasi lapangan di setiap lokasi implementasi.
Dari proses tersebut lahirlah dua teknologi utama yang diuji dalam program. Untuk sektor pertanian dan irigasi, terdapat OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools), sistem irigasi pintar berbasis IoT yang menggunakan energi surya. Sementara untuk kebutuhan komunikasi ketika terjadi gangguan jaringan reguler, dikembangkan HERMES (High-frequency Emergency and Rural Multimedia Exchange System), sistem komunikasi darurat berbasis radio frekuensi tinggi. OSPIT menggabungkan sensor suhu dan kelembapan, unit kontrol dan pompa, tangki air, floating switch, filter dan sistem back flush, jaringan irigasi tetes, panel surya dan baterai, serta dashboard untuk monitoring dan controlling. Melalui dashboard tersebut, pengguna dapat memantau kondisi tanah dan suhu, tegangan panel surya dan baterai, kondisi air dan pompa, hingga jadwal penyiraman.
Namun, teknologi tersebut tidak diterapkan dengan pendekatan seragam. Empat lokasi implementasi menunjukkan empat konteks yang berbeda. Di Kasepuhan Gelaralam, OSPIT diterapkan pada 24 bedengan dengan total 114 meter drip tape, sekaligus menguji metode irigasi kabut dan micro-sprinkler sesuai kebutuhan tanaman. Sistem ini terhubung melalui Wi-Fi lokal Ciptagelar. Di BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya, sistem diterapkan pada 17 bedengan dan 34 jalur drip tape. Sementara di Desa Purwasedar, Sukabumi, OSPIT digunakan pada kebun melon. Di Desa Sukadana, Lombok Utara, sebanyak 120 set drip emitter diterapkan pada tanaman anggur yang menggunakan media tanam dengan daya simpan air rendah sehingga membutuhkan jadwal penyiraman yang lebih fleksibel.


Proses implementasinya pun menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pembelajaran. Setiap lokasi melalui pengukuran dan validasi kondisi lahan, perakitan sistem irigasi dan elektronik, pemasangan panel surya, konfigurasi konektivitas dan dashboard, pengujian serta kalibrasi, hingga pelatihan operasional, pemeliharaan, dan basic troubleshooting. Metode belajar yang digunakan antara lain learning by doing dan praktik langsung. Hasil awal menunjukkan empat sistem OSPIT telah berhasil dipasang dan beroperasi. Fungsi monitoring dan controlling berhasil dikonfigurasi, sementara panel surya, pompa, sensor, tangki, dan irigasi tetes telah diuji. Komunitas juga memperoleh pengetahuan mengenai operasi dan pemeliharaan dasar.
Tetapi, pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa memasang teknologi bukanlah garis akhir. “Instalasi bukan tahap akhir, tahap monitoring, pemeliharaan, dan pendampingan teknis tetap dibutuhkan,” demikian salah satu pembelajaran yang dicatat Tisha dalam presentasinya.
Ada persoalan konektivitas yang membuat dashboard tidak selalu dapat diakses secara stabil. Ada pula perbedaan kebutuhan air berdasarkan jenis tanaman dan media tanam. Bahkan, jadwal implementasi harus menyesuaikan agenda dan dinamika komunitas. Karena itu, pelibatan warga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Praktik langsung bukan hanya membuat peserta mengetahui cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga membantu membangun rasa memiliki terhadap sistem yang dipasang.
Hal serupa terlihat dalam pengembangan HERMES. Sistem komunikasi darurat tersebut dirancang untuk digunakan ketika jaringan reguler terbatas atau terganggu. Pengembangannya melibatkan pemimpin adat, kepala dusun, dan baris kolot. Uji coba radio HF dilakukan bersamaan dengan sosialisasi sirene tsunami, sementara penjajakan fungsi tambahan sebagai sarana komunikasi nelayan juga telah dilakukan bersama instansi terkait.

Dengan demikian, teknologi dalam program WACC-APC tidak berhenti sebagai perangkat. Ia juga diterjemahkan menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diwariskan di tingkat komunitas. Modul yang dikembangkan mencakup pengenalan IoT dan sensor, instalasi OSPIT, energi surya, irigasi tetes, penggunaan dashboard, pemeliharaan, dan troubleshooting. Untuk HERMES, materi mencakup pengenalan komunikasi HF, fungsi perangkat dalam kondisi darurat, pemasangan dan penggunaan, hingga tata kelola dan pemeliharaan berbasis komunitas.
Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut tetap hidup setelah program selesai. Monitoring di empat lokasi demplot perlu dilanjutkan, pendampingan teknis dan pemeliharaan berkala tetap dibutuhkan, sementara konektivitas di lokasi dengan sinyal terbatas perlu diperkuat. Sistem pengaturan alat juga perlu dikembangkan agar jadwal penyiraman dapat semakin fleksibel.


Pada saat yang sama, pengalaman pengguna harus terus dikumpulkan. Data penggunaan air dan perkembangan tanaman menjadi penting untuk mengetahui apakah teknologi benar-benar memberikan manfaat, sekaligus menjadi dasar penyempurnaan modul. Program juga merekomendasikan pelibatan lebih banyak perempuan dan generasi muda dalam peran teknis serta menilai kesiapan replikasi berdasarkan hasil monitoring, bukan hanya antusiasme.
Pada akhirnya, pengalaman WACC-APC menunjukkan bahwa membangun ketahanan iklim melalui teknologi membutuhkan lebih dari sekadar koneksi internet dan perangkat pintar. Dibutuhkan proses mendengarkan kebutuhan masyarakat, memahami kondisi lokal, menguji teknologi, belajar bersama, dan memastikan komunitas memiliki kemampuan untuk mengelolanya. Dalam kerangka tersebut, konektivitas yang bermakna dapat menjadi infrastruktur pendukung bagi pertanian yang lebih adaptif, penggunaan air dan energi yang lebih terukur, pemantauan lingkungan, kesiapsiagaan bencana, sekaligus pengembangan pengetahuan lokal. Sebab, teknologi baru benar-benar berarti ketika ia tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga bekerja bersama orang-orang yang menggunakannya.***

