Bagi Siti Fatimah, keluar rumah untuk bekerja sebagai bagian dari tim teknisi jaringan bukanlah sesuatu yang pernah ia rencanakan. Perempuan 31 tahun asal Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi itu sebelumnya menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga. Aktivitasnya lebih banyak berlangsung di rumah, diselingi kegiatan berkumpul dan berbagi cerita bersama ibu-ibu di lingkungan sekitar. Namun, sekitar dua tahun terakhir, kesehariannya berubah. Hampir setiap hari Siti ikut menemani suaminya, Yanto, berkeliling menangani berbagai kebutuhan jaringan internet di PT. Internet Desa DIgital (IDes) Ciracap. Ia mengendarai sepeda motor, membawa dan menyiapkan peralatan, menawarkan layanan internet kepada warga, hingga membantu menjual voucher.
Perubahan itu bermula dari kondisi yang sederhana yaitu Yanto yang lebih dulu bekerja sebagai teknisi IDes, sempat mengalami gangguan kesehatan dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Di sisi lain, pekerjaan sebagai teknisi jaringan tidak mengenal jam kerja yang benar-benar pasti. Ketika ada gangguan, perbaikan harus dilakukan secepat mungkin. “Dulu itu beliau sedang sakit, cuma kan perbaikan itu 24 jam. Terus oleh saya dibantu sejak itu,” ujar Siti.

Pada awalnya, Siti tidak benar-benar memahami pekerjaan teknisi. Ia hanya membantu hal-hal yang bisa dilakukan seperti membawa motor, mengoperasikan peralatan, atau menyodorkan perangkat yang dibutuhkan Yanto ketika sedang melakukan perbaikan. “Saya yang mengoper-oper alat, jadi beliau cuma naik turun tangga untuk perbaikan,” katanya.
Dari pekerjaan yang awalnya hanya bentuk bantuan kepada suami, Siti perlahan mulai mengenali berbagai perangkat jaringan. Ia belajar membedakan HTB (Media Converter), router, adaptor, hingga peralatan lain yang sebelumnya asing baginya. Ia mempelajarinya bukan melalui pendidikan formal, melainkan dengan melihat, mengingat, dan terbiasa berada di lapangan. “Dulu kan bingung, HTB itu yang warna hitam atau yang putih? Adaptor yang bagaimana. Sekarang sudah hafal semuanya,” tutur Siti.
Meski belum terlibat langsung dalam memperbaiki kabel atau melakukan pekerjaan teknis di jaringan, Siti kini sudah memahami banyak hal yang dibutuhkan suaminya ketika bekerja. Ketika Yanto meminta HTB atau router, misalnya, ia sudah tahu perangkat mana yang harus disiapkan.
Dari Mengantar Alat hingga Melayani Warga
Kehadiran Siti di lapangan kemudian berkembang melampaui peran sebagai pendamping. Ketika tidak ada gangguan jaringan yang harus diperbaiki, ia ikut menawarkan layanan internet kepada warga. Di wilayah tempatnya tinggal, akses internet belum selalu stabil dan belum semua warga menggunakan layanan internet. Siti memanfaatkan interaksi sehari-hari dengan warga untuk menjelaskan pilihan layanan yang tersedia, termasuk penggunaan layanan bulanan maupun voucher. “Enaknya ikut, jadi kita bisa membantu perusahaan penyedia jasa layanan internet ini ke ibu-ibu yang belum pasang internet, menawarkan program Wi-Fi dan pemakaian bulanan begitu, menjelaskan itu sih,” katanya.

Ia juga berkeliling mengantarkan voucher kepada agen-agen serta menawarkan produk kepada calon pelanggan. Menurutnya, respons masyarakat terhadap layanan IDes cukup baik, terutama karena perbaikan dilakukan dengan cepat. Dalam kondisi normal, Siti dan Yanto sudah harus siap sejak sekitar pukul 07.30 ketika terdapat laporan gangguan. Pekerjaan bisa selesai pada sore hari, tetapi tidak jarang berlangsung hingga malam apabila masalah yang ditemukan cukup rumit. Gangguan pada kabel di jalur tertentu, misalnya, dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk ditemukan dan diperbaiki.
Yanto sendiri menangani sekitar 200 pelanggan di tiga desa. Tim teknisi IDes berjumlah sekitar lima hingga enam orang dan sebagian besar bekerja sendiri-sendiri. Jika kerusakan membutuhkan lebih banyak tenaga, barulah teknisi lain dipanggil untuk membantu. Bagi Siti, kondisi tersebut membuat pekerjaan teknisi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapsiagaan. “Dukanya, kalau seperti pelanggan itu tidak sabar dalam perbaikan. Jadi gerak cepatnya kita sekarang dalam perbaikan itu istilahnya 24 jam kita ada, langsung standby,” ujarnya.
Ketika Pekerjaan dan Rumah Tangga Berjalan Bersama
Turun ke lapangan setiap hari tentu mengubah cara Siti dan Yanto mengatur kehidupan rumah tangga. Mereka memiliki dua anak, satu masih duduk di SMP dan satu lagi berusia lima tahun. Namun, pekerjaan rumah tidak sepenuhnya ditinggalkan. Justru pembagian tugas di antara keduanya menjadi semakin fleksibel. Ketika Siti memasak, Yanto dapat menyapu. Mencuci pun dilakukan bersama. “Kalau mencuci dan apa-apa sekarang dikerjakan bersama, saling bantu. Kadang saya di dapur, beliau yang menyapu. Nanti mencuci bersama,” kata Siti.
Anak-anak mereka juga perlahan terbiasa dengan rutinitas tersebut. Anak yang lebih besar sudah dapat memasak dan mencuci pakaian sendiri. Sementara anak yang masih kecil memahami bahwa ketika kedua orang tuanya harus berangkat membawa peralatan, ia akan lebih dulu diantar ke rumah nenek. Karena pekerjaan teknisi berlangsung sepanjang pekan, waktu bersama keluarga pun harus dicari di sela-sela pekerjaan. Siti dan Yanto biasanya memanfaatkan akhir pekan atau waktu libur sekolah untuk mengajak anak-anak bepergian. Bahkan ketika sedang berlibur, mereka tetap memantau telepon untuk memastikan tidak ada pelanggan yang membutuhkan bantuan.
Bagi Siti, pengaturan semacam itu bukan sesuatu yang terlalu sulit selama dilakukan bersama. “Sejauh ini tidak ada kesulitan, itu mah bagaimana kitanya saja,” ujarnya.
Belajar Tanpa Harus Berangkat dari Sekolah Teknisi
Cerita Siti juga berkelindan dengan perjalanan Yanto menjadi teknisi. Sebelum bergabung dengan IDes pada 2021, Yanto bekerja sebagai petani dan penderas gula merah. Ia juga pernah bekerja di bengkel dan bertani di sawah. Kemampuan teknisnya tidak diperoleh melalui sekolah kejuruan. Ia belajar dengan mengikuti proses pekerjaan dan mengamati teknisi lain. “Tidak tahu, ikut-ikut saja. Paham-paham sendiri,” kata Yanto ketika ditanya dari mana kemampuan teknisinya berasal.
Menurut Siti, pengalaman itulah yang kemudian membuat Yanto bisa menetap sebagai teknisi di IDes. “Dulu pernah kerja di bengkel juga, produksi gula merah juga, bertani ke sawah juga. Sekarang menetap di IDes. Waktu nganggur sering nongkrong di bengkel, diajak bantu, terus ikut belajar,” tuturnya.

Bagi Siti, pola tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan teknisi jaringan tidak selalu harus dimulai dari ijazah atau pendidikan formal tertentu. Yang penting adalah kemauan untuk bekerja dan belajar. “Enaknya di IDes itu tidak mempersulit masalah ijazah dan lain-lain. Selama dia mau belajar dan jujur, silakan masuk,” katanya. Menurutnya, kesempatan seperti itu juga dapat membuka ruang bagi anak-anak muda di desa yang belum memiliki pekerjaan.
Perempuan di Lapangan
Di tengah tim teknisi yang sebagian besar laki-laki, keberadaan Siti sebagai satu-satunya perempuan tentu menarik perhatian. Beberapa warga bahkan bertanya apakah dirinya merupakan karyawan IDes atau sekadar menemani suami. Bagi Siti, pertanyaan tersebut tidak menjadi masalah. Ia justru merasa senang karena aktivitas yang dilakukannya membuatnya memiliki kesibukan sekaligus dapat membantu keluarga dan pekerjaan suami.
Perannya pun tidak terbatas pada pekerjaan di lapangan. Ketika tim teknisi sedang memperbaiki jaringan, Siti dapat ikut memastikan pekerjaan berjalan cepat. Setelah itu, ia bisa kembali ke rumah untuk menyiapkan makanan bagi keluarga dan rekan-rekan teknisi. “Saya membantu di lapangan, juga menyiapkan makanan untuk anak-anak di rumah dan rekan teknisi kalau ada perbaikan di wilayah kita,” ujarnya.

Siti juga menyadari bahwa perempuan yang bekerja di lapangan memiliki tantangan tersendiri. Ia memilih untuk menjaga sikap dan bekerja secara profesional ketika berinteraksi dengan warga. Dalam menawarkan layanan, misalnya, ia lebih banyak berbicara dengan ibu-ibu dan menawarkan produk kepada warga laki-laki seperlunya.
Baginya, pekerjaan lapangan bukan persoalan apakah seseorang laki-laki atau perempuan. Yang lebih penting adalah bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan. “Rumah tangga kan saling membantu dan saling support. Selama baik-baik saja, itu sangat lazim. Perempuan berhak memiliki profesi yang sama,” kata Siti.
Dari Mendampingi Suami Menjadi Rekan di Lapangan
Apa yang bermula dari kebutuhan untuk membantu suami ketika sedang sakit, perlahan menjadi bagian dari kehidupan Siti. Kini, ia sudah terbiasa berangkat bersama Ayanto, mengenali peralatan jaringan, melayani pelanggan, menjual voucher, sekaligus tetap mengurus keluarga. Yanto pun mengakui bahwa pada awalnya ia sendiri yang meminta bantuan Siti untuk membawa motor. Di lapangan, pekerjaan teknis tetap ia kerjakan, sementara Siti membantu berbagai kebutuhan pendukung.
Bagi Siti, keputusan untuk ikut bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. “Saya langsung siap saja, tidak menolak. Hayu saja mendampingi, karena ini tanggung jawab mendampingi seorang suami,” katanya.

Namun, perjalanan hampir dua tahun itu pada akhirnya memperlihatkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar kisah seorang istri yang membantu suami bekerja. Di atas sepeda motor yang mereka gunakan berkeliling, di tengah kabel jaringan dan perangkat yang harus dibawa, Siti menemukan bentuk baru dari kemandirian dan kerja sama. Ia tidak lagi hanya berada di rumah menunggu suami pulang. Ia ikut melihat persoalan warga, mengenali kebutuhan pelanggan, belajar teknologi jaringan, dan menjadi bagian dari pekerjaan yang sebelumnya dianggap identik dengan laki-laki.
Pesannya kepada perempuan lain yang bekerja di lapangan pun sederhana. “Jangan pernah mengeluh dan jangan pernah capek. Istri di rumah selalu support suami sampai ikut turun ke lapangan. Jadi jangan anggap remeh istri, istri di rumah bekerja, keluar rumah pun bekerja lagi membantu suami.” Bagi Siti dan Yanto, pekerjaan itu akhirnya bukan hanya tentang memperbaiki jaringan yang putus. Ada kerja sama lain yang terus mereka rawat yaitu berbagi tugas, saling mendukung, dan memastikan kehidupan keluarga tetap berjalan bersamaan dengan pekerjaan mereka di lapangan.***

