Di Kampung Adat Ciptagelar, teknologi tidak datang dengan gegap gempita layar besar atau ruang laboratorium modern. Ia hadir lewat percakapan santai di lantai kayu, di sela udara pegunungan yang sejuk dan hamparan kebun yang bergantung pada cuaca. Dari ruang belajar sederhana itulah, warga, fasilitator, dan pegiat teknologi pertanian duduk bersama membicarakan satu hal penting yaitu bagaimana menjaga pertanian tetap hidup di tengah perubahan iklim yang makin sulit diprediksi.
Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo memperkenalkan berbagai sistem penyiraman tanaman otomatis saat Workshop Pengenalan IoT dan Smart Irrigation System di Kampung Adat Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi pada Minggu (17/5/2026). Toni mengenalkan mulai dari sistem irigasi tetes (drip irrigation), sprinkler yang menyerupai hujan buatan, hingga teknologi mist yang mengubah air menjadi partikel uap halus guna membantu efisiensi penggunaan air dan menjaga kelembapan tanaman secara optimal.

Bagi Toni, teknologi pertanian bukan sekadar soal alat canggih, melainkan bagaimana sistem bisa menjawab persoalan nyata petani sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa banyak petani masih menghadapi penyiraman manual yang memakan waktu panjang dan boros air, sementara kondisi kekeringan di sejumlah wilayah semakin meningkat. “Tujuan smart irrigation bukan menggantikan petani, tapi membantu petani bekerja lebih efisien dan lebih presisi,” ujarnya dalam sesi diskusi.
Dalam pemaparannya, Toni juga mengenalkan berbagai perangkat Internet of Things (IoT) yang dikembangkan Pakebun untuk mendukung sistem pertanian cerdas. Salah satunya PlantGrow, perangkat yang disebut sebagai “otak sistem” untuk membaca data sensor, mengatur penyiraman otomatis, hingga meracik nutrisi tanaman berdasarkan data lapangan. Selain itu terdapat PlantHara untuk mendeteksi kelembapan tanah, suhu, pH, hingga kandungan unsur hara, serta PlantClimate yang memantau suhu udara, kelembapan, tekanan udara, dan intensitas cahaya. Sistem itu bekerja saling terhubung dan mengirimkan data secara real-time ke aplikasi pemantauan digital.
“Tanaman sebenarnya memberi sinyal. Sensor membantu kita membaca kebutuhan tanaman dengan lebih akurat,” kata Toni. Menurutnya, pendekatan berbasis data membuat penggunaan air menjadi lebih hemat sekaligus menjaga kesehatan tanaman tetap optimal.

Sementara itu konsultan dan fasilitator smart irrigation system, Rois Solihin menekankan bahwa keberhasilan sistem irigasi pintar bukan hanya bergantung pada perangkat, tetapi juga pemahaman masyarakat terhadap kondisi lahannya sendiri. “Teknologi harus mengikuti karakter wilayah dan kebutuhan warga. Karena itu pemetaan sumber air, jenis tanaman, sampai kondisi tanah menjadi tahapan yang sangat penting,” ujarnya.
Diskusi berkembang menjadi ruang kolaborasi untuk menyusun gambar teknis detail sistem Smart Irrigation berbasis IoT yang sesuai dengan konteks lokal Ciptagelar. Peserta bersama fasilitator membahas penempatan sensor, skenario operasional sistem, penggunaan panel surya, hingga kemungkinan penerapan teknologi LoRa agar perangkat tetap dapat bekerja di wilayah dengan konektivitas internet terbatas.
Menurut Toni, tantangan pertanian masa depan tidak hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Ia mencontohkan penerapan sistem irigasi tetes berbasis IoT di sejumlah wilayah lahan kering yang mampu menghemat penggunaan air hingga 40 persen dan meningkatkan hasil panen secara signifikan. “Air akan menjadi isu penting ke depan. Karena itu pertanian harus mulai beralih ke sistem yang lebih hemat, terukur, dan berkelanjutan,” katanya.

Workshop ini juga menegaskan pentingnya transfer pengetahuan kepada generasi muda kampung. Peserta tidak hanya diajak memahami cara kerja alat, tetapi juga belajar melakukan perawatan mandiri, troubleshooting ringan, hingga membaca data hasil pemantauan sensor. Bagi para fasilitator, keberlanjutan teknologi di desa hanya bisa berjalan jika masyarakat menjadi subjek utama dalam proses belajar dan pengelolaannya.
Dari kampung adat yang lekat dengan tradisi, teknologi tumbuh perlahan sebagai alat gotong royong baru. Bukan untuk menghapus cara lama, melainkan memperkuatnya agar pertanian tetap bertahan menghadapi musim yang berubah, sumber air yang makin terbatas, dan masa depan yang menuntut ketahanan lebih besar dari sebelumnya.***

