Workshop Capacity Building – Agriculture IoT Smart Irrigation System yang digelar di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara pada Rabu (22/4/2026) menjadi langkah penting dalam memperkenalkan teknologi irigasi cerdas untuk mendukung pertanian berkelanjutan di wilayah timur Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi tindak validasi lokasi implementasi sistem Open Source Solar Powered Irrigation Tool (OSPIT) di kawasan tersebut yang dilakukan oleh Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia dan Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo serta tim BLK Don Bosco yang dipimpin langsung Direktur BLK Don Bosco Sumba Barat Daya, Br. Ephrem Santos.

Melalui sambungan konferensi video bersama Sekolah Internet Komunitas (SIK) Lombok Utara yang juga menggelar workshop serupa, di hadapan tim pengembang OSPIT Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia menyampaikan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan kunci utama dalam mendorong adopsi teknologi pertanian modern. Menurutnya, inovasi harus hadir sebagai solusi yang mudah digunakan, relevan dengan kebutuhan petani, dan mampu memberi dampak nyata terhadap produktivitas lahan.
Ia menegaskan bahwa sistem irigasi pintar bukan sekadar perangkat digital, melainkan bagian dari upaya menciptakan efisiensi penggunaan air, meningkatkan hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan lokal. Karena itu, kolaborasi antara komunitas, fasilitator teknis, dan masyarakat setempat menjadi unsur penting agar teknologi dapat berjalan berkelanjutan.


Hasil survei lapangan menunjukkan area yang dipilih berada di bagian depan kawasan BLK Don Bosco, tepat di dekat pagar utama. Luas lahan mencapai 15 meter x 4,5 meter dengan ketinggian sekitar 86 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini dinilai strategis karena aman, terlindungi pagar, serta telah memiliki akses listrik, air, dan jaringan internet dasar. Namun demikian, kekuatan sinyal masih lemah sehingga dibutuhkan tambahan perangkat penguat jaringan agar konektivitas lebih stabil.
Lahan tersebut telah memiliki bedengan tanam dan siap digunakan. Beberapa tanaman yang sudah tumbuh di area sekitar antara lain pakcoy, kacang panjang, cabai, kelapa, pepaya, dan pisang. Jenis tanah didominasi tanah mediteran merah-kuning, sedangkan media tanam pada bedengan terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang kambing. Kondisi ini dinilai cukup potensial untuk pengembangan budidaya hortikultura dengan sistem irigasi terukur.
Saat ini, penyiraman dilakukan satu kali sehari dan akan dihentikan bila tanah masih basah akibat hujan. Metode yang digunakan masih sederhana, yakni memakai gembor atau selang biasa, kemudian air dipercikkan secara manual menggunakan tangan. Cara tersebut dinilai kurang efisien, terutama dalam penggunaan air dan tenaga kerja.

Melalui OSPIT, sistem penyiraman akan memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energi utama. Sensor kelembaban tanah akan membaca kebutuhan air tanaman secara real-time, lalu sistem secara otomatis mengaktifkan pompa atau membuka aliran irigasi ketika tanah membutuhkan air. Dengan cara ini, penggunaan air menjadi lebih hemat dan tanaman memperoleh suplai air yang tepat.
OSPIT sendiri dikembangkan oleh dua inovator perempuan, Elektra Wagenrad dan Pamela Cuadros yang kini bermukim di Jerman. Kehadiran mereka dalam sesi konferensi video menandai kolaborasi lintas negara antara inovasi global dan kebutuhan lokal masyarakat desa. Kerja sama semacam ini membuktikan bahwa teknologi terbuka atau open source memungkinkan desa-desa di Indonesia mengakses inovasi dunia tanpa harus bergantung pada sistem mahal dan tertutup.

Tim pengembang OSPIT merekomendasikan sejumlah langkah teknis untuk optimalisasi lahan di BLK Don Bosco. Sumber air utama diketahui berada sekitar 30 meter dari lahan dan memiliki banyak cabang distribusi sehingga tekanan air rendah. Solusi yang diusulkan adalah menempatkan tangki penampung tambahan berkapasitas 150 liter di dekat lahan sebagai buffer tank. Tangki ini akan diisi otomatis dari tangki utama menggunakan float valve, kemudian air didorong dengan pompa kecil menuju area tanam.
Selain itu, sistem irigasi yang direkomendasikan adalah drip irrigation menggunakan selang datar berlubang atau drip tape. Metode ini dinilai lebih hemat air, tepat sasaran, dan cocok diterapkan pada budidaya sayuran di lahan kecil. Perangkat pendukung yang diusulkan meliputi sensor ketinggian air tangki, sensor kelembapan tanah, pompa air, serta sistem pemantauan berbasis IoT.
Tim juga menyarankan penutupan permukaan tanah menggunakan bahan organik atau mulsa untuk mengurangi penguapan air. Di area BLK Don Bosco, material seperti daun-daun kering yang banyak berjatuhan dapat dimanfaatkan sebagai mulsa alami sehingga mendukung praktik pertanian ramah lingkungan.

Melalui workshop ini, Common Room bersama para mitra menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor pertanian dapat dimulai dari skala kecil namun berdampak besar. Dengan pendekatan teknologi terbuka, pemanfaatan energi surya, dan pemberdayaan masyarakat, sistem smart irrigation diharapkan menjadi model pertanian adaptif yang relevan bagi wilayah kepulauan seperti Sumba Barat Daya.***

