Langkah menuju pertanian yang lebih efisien dimulai dari demplot Kelompok Wanita Tani (KWT) Pucuk Merah di Dusun Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, melalui Workshop Capacity Building – Agriculture IoT Smart Irrigation System pada Rabu (22/4/2026). Dalam kegiatan itu, Rois Solihin menjelaskan hasil kunjungan lapangan sekaligus konsep irigasi pintar yang siap dikembangkan di wilayah tersebut.
Materi itu juga disampaikan melalui sambungan konferensi video kepada para pengembang perangkat Open Source Solar Powered Irrigation Tool (OSPIT), sebuah teknologi irigasi terbuka berbasis tenaga surya yang dirancang untuk membantu pertanian skala kecil dan menengah.

Dalam paparannya, Rois menjelaskan bahwa survei lapangan dilakukan untuk menilai kesiapan penerapan teknologi smart irrigation dan infrastruktur pendukung di Sukadana. Tim melakukan pengukuran area tanam, memeriksa sistem perpipaan irigasi yang sudah ada, mendokumentasikan kondisi lahan, serta memvalidasi data teknis secara langsung di lokasi.
“Kami datang ke lapangan untuk memastikan solusi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani, bukan sekadar teori di atas kertas,” ujar Rois.
Ia menjelaskan bahwa lokasi yang disurvei bersama perwakilan Sekolah Internet Komunitas (SIK) Lombok Utara, Satuang dan Dian Erawati Kumala ini merupakan kebun pekarangan rumah dengan komoditas utama anggur. Saat ini terdapat 11 pohon anggur dan direncanakan berkembang menjadi 27 pohon di lahan dengan luas 18,5 x 5 meter ini. Selain itu, warga juga menanam sayuran seperti pakcoy, selada, dan mentimun untuk kebutuhan keluarga dengan bantuan benih dari pemerintah.

Menurut Rois, kondisi tersebut sangat potensial untuk penerapan sistem irigasi presisi. Selama ini penyiraman masih dilakukan secara manual menggunakan pompa air, selang, atau gembor. Belum tersedia tangki penampungan air maupun sistem distribusi otomatis.
“Kita ingin mengubah proses penyiraman dari kerja manual yang menyita waktu menjadi sistem cerdas yang efisien, terukur, dan mudah dikendalikan,” tegasnya.
Melalui OSPIT, sistem penyiraman akan memanfaatkan tenaga surya sebagai sumber energi utama. Sensor kelembaban tanah akan membaca kebutuhan air tanaman secara real-time, lalu sistem secara otomatis mengaktifkan pompa atau membuka aliran irigasi ketika tanah membutuhkan air. Dengan cara ini, penggunaan air menjadi lebih hemat dan tanaman memperoleh suplai air yang tepat.
“Air harus diberikan sesuai kebutuhan tanaman, bukan berdasarkan perkiraan. Saat data bekerja, pemborosan bisa dihentikan,” kata Rois.

Ia menambahkan, teknologi tersebut bukan hanya membantu efisiensi air, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas pertanian. Tanaman yang memperoleh pasokan air stabil cenderung tumbuh lebih sehat, lebih seragam, dan menghasilkan panen lebih baik. Hal ini penting untuk memperkuat produksi pangan sehat dan mandiri di tingkat desa.
Keunggulan lain dari OSPIT adalah adanya titik akses Wi-Fi terintegrasi. Sistem ini membuka peluang lahirnya layanan digital lokal yang dapat dikelola masyarakat, seperti pusat informasi pertanian, akses internet komunitas, pemantauan kebun berbasis aplikasi, hingga ruang belajar digital bagi pemuda desa.
“Teknologi pertanian hari ini tidak hanya bicara air dan pompa, tetapi juga konektivitas, pengetahuan, dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” jelas Rois.

OSPIT sendiri dikembangkan oleh dua inovator perempuan, Elektra Wagenrad dan Pamela Cuadros yang kini bermukim di Jerman. Kehadiran mereka dalam sesi konferensi video menandai kolaborasi lintas negara antara inovasi global dan kebutuhan lokal masyarakat desa. Bagi Rois, kerja sama semacam ini membuktikan bahwa teknologi terbuka atau open source memungkinkan desa-desa di Indonesia mengakses inovasi dunia tanpa harus bergantung pada sistem mahal dan tertutup.
Kehadiran gagasan OSPIT menjadi inspirasi baru bagi Dusun Sukadana. Desa yang selama ini dikenal dengan pertanian pekarangan kini didorong menjadi pusat pertanian modern yang mandiri, berkelanjutan, dan terhubung dengan dunia. Dari kebun kecil di Lombok Utara, masa depan pertanian cerdas mulai tumbuh. “Kolaborasi global harus memberi manfaat nyata di tingkat lokal. Desa seperti Sukadana berhak mendapatkan teknologi terbaik yang bisa mereka kelola sendiri,” pungkasnya.***

