Pada Jumat (27/2/2026) lalu, Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar dan Project Officer Common Room, Andriani Kesa Alivia berkesempatan mengikuti Blended Training Programme for ICT Network Managers in Indigenous and Rural Communities in the Africa Region 2025–2026 yang diselenggarakan oleh International Telecommunication Union (ITU), Association for Progressive Communications (APC), Rhizomatica, African Advanced Level Telecommunications Institute (AFRALTI), TandaNet, dan Internet Society di Nairobi, Kenya. Kesa menjadi co fasilitator mendampingi tiga fasilitator lain termasuk Gustaff yaitu Director Tanda Community Network, David Ochiel dan Finance Lead Tanda Community Network, John Gitonga pada satu sesi pelatihan bertajuk Community Engagement Forum.
Sesi ini diikuti oleh sebanyak dua belas peserta yang datang dari latar belakang yang berbeda namun disatukan oleh satu tujuan yaitu memahami bagaimana komunitas seharusnya dilibatkan, bukan sekadar dijadikan objek program. Melalui sesi ini para peserta diajak kembali ke hal paling mendasar dengan menjawab pertanyaan “apa itu komunitas?”
Dalam sesi ini dibahas jika komunitas dalam pemahaman yang dibangun bersama adalah bukan sekadar kumpulan orang dalam satu wilayah. Komunitas adalah kelompok dengan keterhubungan yang hidup, berbagi bahasa, tujuan, praktik, bahkan tantangan yang sama. Di dalamnya ada budaya, nilai, hingga relasi sosial yang membentuk identitas bersama, dari tingkat keluarga hingga klan dan suku. Pemahaman ini menjadi kunci. Sebab tanpa mengenali “siapa” komunitas itu, setiap upaya intervensi berisiko menjadi asing bahkan ditolak.
Satu yang paling menarik dalam sesi ini adalah pendekatan yang sering dilupakan yaitu mendengar satu sama lain. Alih-alih langsung membawa program, peserta diajak untuk memulai dari analisis kebutuhan. Proses ini dilakukan melalui observasi etnografis, riset lapangan, hingga studi kelayakan. Artinya, memahami komunitas bukan hanya dari data, tetapi dari kehidupan sehari-hari mereka.

Lebih jauh, keterlibatan komunitas tidak bisa dibangun tanpa relasi. Mengunjungi rumah warga, berbincang santai, hingga memastikan bahwa misi program benar-benar selaras dengan kebutuhan yang mereka ungkapkan menjadi bagian penting dari proses ini. Dalam hal ini komunitas bukan penerima manfaat, mereka adalah mitra.
“Kalau kita tidak melibatkan mereka sejak awal, kita hanya sedang menebak-nebak kebutuhan orang lain,” menjadi semangat yang berulang dalam diskusi. Salah satu tantangan dalam pelibatan komunitas adalah menjaga keterlibatan itu tetap hidup. Informasi yang disampaikan secara kaku sering kali gagal menjangkau masyarakat. Karena itu, pendekatan kreatif menjadi penting. Informasi dikemas melalui seni, cerita, hingga media audio visual seperti radio, musik, dan film dokumenter. Cara ini bukan hanya membuat pesan lebih mudah diterima, tetapi juga memberi ruang bagi komunitas untuk menyuarakan diri mereka sendiri.
Di sinilah konsep social currency atau “modal sosial” bekerja. Bukan soal uang, tetapi tentang rasa memiliki, pengakuan, dan hubungan yang saling menguatkan. Pelibatan komunitas juga tidak bisa dilepaskan dari pemetaan pemangku kepentingan. Namun, pendekatan yang digunakan bukan sekadar daftar aktor. Di sesi ini peserta diajak melihat lebih dalam bagaimana struktur sosial bekerja, siapa yang berpengaruh dalam kepemimpinan lokal, bagaimana aspirasi politik terbentuk, hingga peran nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks tertentu seperti yang dicontohkan dari berbagai wilayah di Afrika, faktor-faktor ini sangat menentukan keberhasilan sebuah program. Mengabaikannya sama saja dengan mengabaikan realitas yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu kritik yang muncul dalam sesi ini adalah pendekatan terpusat baik dari korporasi maupun pemerintah yang sering kali melihat masyarakat sebagai “konsumen”.
Pendekatan semacam ini cenderung mengejar hasil cepat, tanpa komitmen jangka panjang. Program datang, berjalan sebentar, lalu pergi sebelum benar-benar menyelesaikan masalah. Sebagai alternatif, sesi ini mendorong pendekatan human centred dan kolaborasi terbuka. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pusat, bukan sebagai target. Metode seperti design thinking digunakan untuk memahami persoalan sosial secara kontekstual, lalu merancang solusi bersama komunitas. Prosesnya mungkin lebih lambat, tetapi hasilnya lebih berkelanjutan.
Di era digital, pelibatan komunitas tidak bisa dilepaskan dari akses teknologi. Namun, akses saja tidak cukup. Seni ini menekankan pentingnya kedaulatan digital di mana komunitas tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemilik dan pengelola. Hal ini mencakup penyediaan infrastruktur dan perangkat, pengembangan konten lokal dalam bahasa setempat, hingga penyimpanan data secara lokal agar dapat diakses tanpa biaya. Dengan cara ini, teknologi tidak lagi menjadi sesuatu yang “datang dari luar”, tetapi menjadi bagian dari kehidupan komunitas itu sendiri.

Pada akhirnya, pelibatan komunitas bukanlah proyek jangka pendek. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kepercayaan, dan komitmen. Sesi diskusi di bootcamp ini mengingatkan satu hal sederhana namun mendasar yaitu perubahan yang bertahan lama tidak bisa dipaksakan dari luar. Ia harus tumbuh dari dalam, bersama mereka yang menjalaninya setiap hari. Dan mungkin, di situlah letak perbedaan antara sekadar menjalankan program dan benar-benar membangun komunitas.***

