Upaya memperluas akses internet di wilayah terpencil kembali dilakukan melalui program “Peningkatan Kapasitas Teknis Jaringan Internet Dasar dan Tata Kelola Organisasi”. Tim teknis yang terdiri dari Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika, Project Manager Air Putih, Sistiandy Syahbana, serta Koordinator Sekolah Internet Komunitas (SIK) Ciracap, Dede Irawan, bertolak menuju wilayah SIK Mentawai di Dusun Atateitei, Desa Katurei, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada Senin (23/2/2026).

Perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Tim harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam menggunakan sampan, menyusuri Sungai Sinuat hingga melewati Teluk Tiop sebelum akhirnya tiba di kawasan permukiman warga.
Setibanya di lokasi, tim langsung mempersiapkan perangkat internet berbasis satelit bersama warga setempat. Perangkat internet berbasis satelit dan konfigurasi mikrotik disiapkan sebagai bagian dari instalasi jaringan internet yang akan digunakan di wilayah Tiop.

Project Manager Air Putih, Sistiandy Syahbana, menjelaskan bahwa pemasangan perangkat ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan akses internet yang lebih stabil bagi masyarakat di wilayah tersebut.
“Kami menyiapkan perangkat internet berbasis satelit dan melakukan konfigurasi jaringan sebagai persiapan pemasangan router. Harapannya jaringan ini bisa menjadi titik awal pengembangan internet komunitas di Tiop,” ujar Sistiandy.


Proses pemasangan perangkat juga harus berpacu dengan waktu ketersediaan listrik di kawasan tersebut. Di Tiop, listrik hanya tersedia pada malam hari dengan mengandalkan generator diesel yang beroperasi dari pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.
Meski demikian, antusiasme warga terlihat tinggi. Sejak sore hari, sejumlah warga telah berkumpul di kediaman Koordinator SIK Mentawai wilayah Tiop, Alcide Saleilei untuk menyaksikan proses pemasangan sekaligus mencoba layanan internet yang baru dihadirkan.

Ketika jaringan internet akhirnya dapat diakses, suasana haru pun menyelimuti warga. Beberapa di antara mereka langsung mencoba melakukan panggilan video melalui aplikasi WhatsApp dengan anggota keluarga yang berada di kota lain. Koneksi yang sebelumnya sulit dijangkau kini dapat digunakan tanpa gangguan berarti, menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat setempat.
Salah seorang warga, Merryta Samalinggai mengaku kaget saat kondisi internet di desanya kini mulai stabil. “Barusan kami coba video call dengan anak di Madiun, dia yang biasanya hanya mendapat kabar melalui pesan SMS, tiba-tiba mendapat panggilan melalui video WA saat malam hari ikut heran juga,” ujarnya. Merryta menambahkan jika layanan internet di Tiop ini baru masuk di tahun 2023, itu pun warga harus naik ke area ladang cengkeh guna mendapat koneksi yang stabil.

Koordinator SIK Ciracap, Dede Irawan, mengatakan bahwa pengembangan internet komunitas di daerah terpencil seperti Mentawai menjadi langkah penting untuk memperkecil kesenjangan digital.
“Internet komunitas memberi kesempatan bagi warga desa untuk memiliki dan mengelola jaringan internet sendiri. Dengan begitu, akses digital bisa lebih merata dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dede.

Dalam beberapa waktu ke depan, tim Common Room bersama mitra program akan terus melakukan pendampingan kepada Sekolah Internet Komunitas (SIK) di wilayah Mentawai. Pendampingan ini mencakup penguatan kapasitas teknis jaringan, pengelolaan layanan internet, hingga pengembangan model pengelolaan berbasis komunitas.
Pendekatan internet komunitas sendiri dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Melalui model ini, masyarakat didorong untuk terlibat langsung dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur internet yang legal, aman, dan terjangkau.
Dengan hadirnya akses internet yang lebih stabil, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, mulai dari komunikasi, pendidikan, layanan publik, hingga pengembangan ekonomi lokal di wilayah mereka.***

