Suara notifikasi pembayaran dari ponsel kini menjadi nada baru dalam dunia usaha kecil. Transaksi yang dulu mengandalkan uang tunai perlahan bergeser ke sistem non-tunai yang lebih cepat dan praktis. Perubahan inilah yang dibahas dalam pada hari kedua pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai bagian dari Penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/1/2026).
Dalam paparan materi Pemanfaatan Layanan Keuangan Digital, Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya menekankan bahwa penggunaan layanan keuangan digital seperti e-wallet, mobile banking, dan QRIS bukan lagi sekadar pelengkap usaha, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan profesionalisme UMKM.
“Kalau kita ingin usaha lebih cepat, lebih aman, dan lebih dipercaya pelanggan, maka pembayaran digital harus mulai jadi bagian dari operasional sehari-hari. Ini bukan tren sesaat, tapi perubahan perilaku pasar,” ujar Aziz di hadapan para peserta.
Mempercepat Transaksi dan Meminimalkan Risiko
Aziz menjelaskan bahwa pembayaran digital memungkinkan proses transaksi berlangsung lebih praktis. Pelanggan cukup memindai QR code atau melakukan transfer melalui ponsel tanpa perlu uang tunai dan tanpa kerepotan mencari uang kembalian. Hal ini sangat membantu pelaku usaha kecil seperti pemilik warung, kios, maupun usaha jasa.

Selain praktis, sistem pembayaran digital juga lebih aman dibandingkan transaksi tunai. Risiko kehilangan uang, uang palsu, maupun pencurian dapat diminimalkan karena dana tersimpan dalam sistem perbankan atau fintech yang dilindungi PIN, OTP, dan enkripsi.
“Di daerah seperti Sumba, akses ke bank atau kota bisa jauh. Dengan mobile banking, pemilik usaha bisa bayar supplier, listrik, atau kebutuhan lainnya langsung dari HP. Hemat waktu, hemat biaya, dan lebih aman,” tambahnya.
Pencatatan Otomatis dan Lebih Transparan
Salah satu keunggulan utama layanan keuangan digital adalah tercatatnya setiap transaksi secara otomatis. Setiap pembayaran melalui e-wallet, mobile banking, atau QRIS akan terekam dalam sistem, sehingga memudahkan pelaku UMKM memantau omzet harian maupun bulanan.
Menurut Aziz, hal ini berkaitan erat dengan materi hari sebelumnya tentang pencatatan keuangan digital. Jejak transaksi digital dapat menjadi bukti konkret omzet usaha ketika pelaku UMKM ingin mengakses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau pinjaman lainnya.
“Jejak transaksi itu penting. Ketika semua tercatat rapi, kita punya bukti usaha kita berjalan dan berkembang. Itu yang membuat UMKM naik kelas dan lebih mudah dipercaya lembaga keuangan,” jelasnya.
Meningkatkan Daya Saing dan Kepercayaan Pelanggan
Aziz juga memaparkan bahwa konsumen, khususnya generasi muda dan pekerja urban, kini semakin terbiasa dengan pembayaran non-tunai. Usaha yang menerima pembayaran digital dinilai lebih profesional dan mengikuti perkembangan zaman.

Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan berbagai layanan populer seperti GoPay, DANA, OVO, ShopeePay, dan LinkAja untuk e-wallet, serta aplikasi mobile banking seperti BRImo, Livin by Mandiri, myBCA, dan wondr by BNI. Aziz juga menjelaskan fungsi QRIS sebagai standar kode QR nasional yang memungkinkan pelaku usaha menerima pembayaran dari berbagai aplikasi hanya dengan satu kode.
Tujuan dari sesi ini adalah agar peserta tidak hanya memahami konsep pembayaran digital, tetapi juga mampu menggunakannya secara langsung dalam kegiatan usaha sehari-hari.
“Semakin mudah pelanggan membayar, semakin besar peluang transaksi terjadi. Usaha yang adaptif terhadap teknologi akan lebih siap bersaing, bukan hanya di pasar lokal, tapi juga dalam ekosistem ekonomi digital yang lebih luas,” pungkas Aziz.
Melalui pelatihan ini, para pelaku UMKM di Sumba Barat Daya diharapkan mampu memanfaatkan layanan keuangan digital sebagai fondasi untuk memperkuat tata kelola usaha, meningkatkan kepercayaan pelanggan, serta membuka peluang pembiayaan dan pengembangan usaha di masa depan.***

