Menguatkan UMKM Maros di Era Digital: Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Transformasi Ekonomi Lokal

Newsroom

Menguatkan UMKM Maros di Era Digital: Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Transformasi Ekonomi Lokal

Maros terus bergerak, pada 20 November 2025, Tim Baselining Program Penguatan dan Pelatihan Sekolah Internet Komunitas yang terdiri atas Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika dan Pendamping UMKM Rois Solihin serta M. Indra K. H. melakukan rangkaian kunjungan dan dialog strategis di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses digital bermakna bagi pelaku UMKM di wilayah desa dan kawasan terpencil melalui kolaborasi multi-stakeholder. Kunjungan dimulai dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BBRPBAP3) dan dilanjutkan dengan pertemuan bersama Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kopurindag) Kabupaten Maros.


Tim disambut langsung oleh Kepala BRPBAP3, Indra Jaya Asaad yang secara tegas menyatakan bahwa program ini sejalan dengan agenda penguatan ekonomi digital yang sedang dijalankan balai. “UMKM Perikanan adalah motor ekonomi masyarakat pesisir Maros. Tantangan mereka bukan hanya produksi, tetapi bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai dan memperluas pasar,” tegas Indra dalam arahannya.

Ia menjelaskan bahwa balai selama ini telah mendampingi pelaku UMKM Perikanan melalui fasilitasi izin usaha, sertifikat halal, peningkatan kapasitas SDM, hingga pembangunan Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memenuhi standar. Namun, ia menekankan bahwa digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak.


“Banyak Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) dan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) sudah memproduksi, tetapi belum memenuhi standar pasar digital. Di sinilah peran pendampingan teknologi menjadi sangat penting,” tambahnya.

Kolaborasi dengan Common Room menjadi bagian dari upaya memperkuat skill digital pelaku usaha, terutama dalam pemasaran daring, pengelolaan konten, dan strategi akses pasar berbasis internet. Sejalan dengan hal tersebut, di pertemuan kedua Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kopurindag) Maros menegaskan pentingnya sinergi antarinstansi. Diskusi dibuka dengan pemaparan sejumlah tantangan yang selama ini menghambat UMKM lokal.

Menurut pejabat fungsional Pengembang Kewirausahaan UMKM Maros, Fahmy, literasi digital menjadi salah satu aspek paling kritis.


“Masalah utama UMKM kita bukan hanya di produksi, tetapi keberlanjutan usaha. Banyak yang belum siap dengan manajemen posting, menghitung ongkos kirim, menangani komplain, hingga membuat dokumentasi digital yang menarik,” jelasnya.

Fahmy menyampaikan bahwa pembinaan UMKM di Maros didasarkan pada lima aspek: legalitas, finansial, pemanfaatan teknologi, manajemen usaha, serta inovasi dan adaptasi pasar. Namun, dari 34 ribu UMKM yang tercatat, sekitar 80 persen masih belum memiliki laporan keuangan yang baik, sehingga digitalisasi belum berjalan optimal.

Selain itu, muncul isu minimnya visibilitas digital UMKM Maros. Sejumlah komoditas khas daerah bahkan tidak terbaca sebagai produk lokal ketika dicari di internet. “Sebagian produk khas Maros belum muncul di internet. Ini masalah serius dalam hal branding daerah,” jelasnya.


Diskusi juga menyoroti alur usaha dari hulu hingga hilir. Di bagian hulu, terdapat jaringan Pokdakan, sementara hilir mencakup Poklahsar dan kelompok pemasar. Ada pula peluang kolaborasi dengan Kampung Nelayan Makassar dan sekolah disabilitas perikanan di Makassar untuk memperkuat kompetensi digital kelompok UMKM perikanan. Dalam konteks pengembangan SDM, Kopurindag telah menjalankan sejumlah program seperti magang hub untuk mahasiswa, yang melibatkan pelaku usaha lokal.

“Dari 150 pendaftar, hanya 15 mahasiswa yang kami terima. Mereka kami tempatkan langsung di lapangan agar memahami ekosistem UMKM sebenarnya,” lanjut Fahmy.

Dalam diskusi, muncul dua opsi lokasi pendampingan: wilayah perkotaan yang lebih siap atau wilayah pinggiran yang membutuhkan intervensi lebih besar. Kopurindag mengusulkan agar program dua tahun bersama Common Room difokuskan pada UMKM yang sedang merintis dan memiliki tingkat literasi digital rendah.

Skema Training of Trainer (ToT) menjadi pendekatan utama yang akan digunakan. Sebanyak 25 orang akan dipilih untuk mengikuti pelatihan intensif selama dua tahun, kemudian menjadi trainer bagi UMKM lainnya.


Usai kunjungan, tim mendapat kesempatan singkat bertemu dengan Plt. Dinas Perikanan Kabupaten Maros, Muhisal jelang peringatan Hari Ikan Nasinal (Harkannas) 2025 yang akan digelar di Lapangan Pallantikang Maros. Muhisal menyoroti fakta bahwa jumlah KUKM perikanan sangat besar dan semuanya berada di bawah pembinaan Kopurindag. Sebagian besar pelaku usaha adalah petambak, dan UMKM perikanan masih sangat mengandalkan penjualan konvensional, padahal peluang digital semakin terbuka, termasuk potensi sebagai pemasok dapur MBG dan SPPG.

“Kami berharap program ini dapat membantu pelaku UMKM Perikanan bukan hanya memahami teknologi, tetapi benar-benar bisa menggunakannya untuk meningkatkan pendapatan,” ujarnya.

Kunjungan dan diskusi lintas lembaga ini menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem UMKM Maros melalui penguatan literasi digital, pendampingan terstruktur, dan pembangunan ekosistem usaha dari hulu ke hilir. Dengan kerja sama antara BRPBAP3, Kopurindag, Dinas Perikanan, dan Common Room, transformasi digital bagi UMKM Maros diharapkan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberi dampak signifikan bagi ekonomi lokal.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Menguatkan UMKM Maros di Era Digital: Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Transformasi Ekonomi Lokal
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more