The Rhizome Project
Rhizome adalah tumbuhan
menjalar dengan akar merambat di dalam tanah dan daun menjalar
di atas permukaan, dan tidak memiliki pucuk seperti pohon-pohonan,
serta tidak bergantung pada akar tunggal. Berasal dari bahasa
Yunani, yaitu rhizomat atau rhizoma, rhizome adalah suatu
model pertumbuhan umbi-umbian atau tumbuhan merambat, yang
tidak bergantung pada akar tunggang, tetapi mampu bertumbuh
melalui pelipatgandaan (multiplicity) akar, kombinasi, serta
melalui proses deteritorialisasi dan reteritorisalisasi
untuk menghasilkan satu aransemen baru, yang dapat dibayangkan
sebagai sebuah model pertumbuhan yang tidak terpusat (hirarkis),
tetapi memiliki model pertumbuhan yang mandiri, namun sekaligus
saling bertaut antar satu dengan yang lainnya.
Sebagai sebuah titik tolak
bagi "studi kasus", The Rhizome Project ini akan
menitik-beratkan kegiatannya pada pencatatan akan ruang-ruang
gagasan dan catatan-catatan yang mungkin muncul di dalam
konteks ruang dan waktu yang berkaitan dengan pembicaraan
di atas. Proyek ini adalah sebuah tawaran untuk melakukan
pendekatan eksplorasi estetik sebagai sebuah medan pilihan,
sebagai sebuah rangkaian peristiwa-peristiwa. The Rhizome
Project kemudian menjadi bagian dari upaya untuk melakukan
pendekatan kekaryaan yang tidak hanya berhenti pada produksi
obyek-obyek estetik, tetapi juga melihat ini sebagai sebuah
model pendekatan yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah
konteks ruang, waktu dan kondisi-kondisi tertentu.
Dalam prosesnya kemudian,
The Rhizome Project ini akan memberlakukan konteks ruang,
waktu dan kondisi-kondisi yang ada sebagai sebuah wacana,
yang memberikan kemungkinan akan tafsir maupun pencarian
pembacaan yang memungkinkan munculnya bentukan-bentukan
baru bagi pendekatan aktifitas estetika yang ada.
Konteks
Gagasan serta pemikiran bentukan The Rhizome Project ini
terutama sekali mempunyai beberapa elemen konteks yang merupakan
dasar bagi keberadaan proses redefinisi yang akan dilakukan.
Elemen-elemen konteks itu adalah:
Ruang
Sebagai sebuah penanda tempat, gedung The British Council
adalah sebuah kumpulan ruang yang telah memiliki identitas
ataupun konteks awal berupa ruang-ruang yang telah memiliki
latar keberadaan yang sangat jelas. Ruang-ruang di dalam
gedung The British Council adalah sebuah penanda tempat
yang telah memiliki identitas berupa fungsi dan teritori-nya
sendiri. Hal ini tentu saja didasari oleh kepentingan-kepentingan
yang ada di seputar keberadaan gedung The British Council.
Terkait dengan pembicaraan ini, identitas ataupun konteks
awal ini kemudian tercitrakan sebagai sebuah mitos yang
masih menyisakan peluang untuk dibaca dan di-definisikan
kembali. Dalam kaitan inilah The Rhizome Project kemudian
menawarkan peluang pembacaan atas mitos-mitos yang ada di
seputar keberadaan Gedung The British Council.
Waktu
Waktu adalah sebuah entitas yang sama sekali berbeda dengan
ruang. Meskipun keduanya adalah sebuah fluida yang dapat
mengalir, apabila ruang masih menyisakan kemungkinan kontrol,
waktu sepertinya berada di luar kendali kita. Ia senantiasa
bergerak maju, dengan percepatan yang juga berada di luar
jangkauan kita. Hal inilah yang kemudian mendorong kita
untuk menciptakan arti bagi sekuens-sekuens waktu untuk
dapat merasakan kehadirannya. Bagaimana proses penciptaan
sekuens-sekuens yang ada di dalam konteks ruang dan waktu
tertentu sampai saat ini tentu saja masih menyisakan catatan-catatan
yang menarik untuk di baca.
Kondisi/Kejadian/Peristiwa
Pembicaraan mengenai ruang dan waktu tentu saja tidak dapat
dilepaskan dari peristiwa-peristiwa di dalamnya. Namun,
kemunculan sebuah peristiwa tentu saja sangat dipengaruhi
oleh kondisi-kondisi awal yang ada di seputar keberadaannya.
Hal ini kemudian akan membawa kita pada suatu model pembicaraan
yang kompleks, karena masalah ruang, waktu dan kondisi-kondisi
yang ada kemudian merupakan kombinasi yang dapat menghasilkan
peristiwa-peristiwa ataupun sesuatu yang sama sekali tidak
terduga kemungkinan pemunculannya.
Peserta
Peserta yang dipilih adalah seniman-seniman muda yang bekerja
dan berdomisili di kota Bandung dan Jakarta. Keunikan konteks
asal kediaman dari masing-masing seniman ini berpengaruh
saat mereka harus menyikapi keberadaan gedung The British
Council yang notabene berdiri di dalam konteks kota Jakarta.
Pada prosesnya lebih lanjut, kegiatan ini diharapkan dapat
juga diikuti oleh publik secara terbuka.
Adapun seniman-seniman yang
tercatat akan mengikuti kegiatan ini adalah:
David Tarigan, Siti Nazariah,
Tandun, Adi Cumi, Acit, Yuna, Syagini Ratnawulan, Sat N.B,
Dendy Darman, Gustaff H. Iskandar, Dewi Aditya, J.D. Avianto,
Arief Tousiga, Hendy Hermansyah, Nishkra, Indra Ameng, Henry
Batman, Reza Asung, Albertus Wisnumurti, Andry Moch., Tiarma
D. Sirait, dan lain-lain.
Hasil Akhir
Hasil akhir dari kegiatan ini adalah sebuah Post-Event Catalogue
yang tidak hanya merekam berbagai objek kesenian yang ditampilkan
dan proses pengerjaan setiap objek-objek kesenian yang ada
pada saat event ini terjadi, tetapi juga merekam reaksi
dari publik saat berhadapan dengan beragam bentukan kesenian
yang terjadi saat itu, serta wacana-wacana ataupun diskursus
yang berlangsung, dari artist talk serta diskusi publik.
Post Event Catalogue adalah sebuah simpul akhir yang penting
bagi keseluruhan kegiatan The Rhizome Project, karena tidak
hanya menjadi media perekam, tetapi juga bukan tidak mungkin
menjadi media perkembang-biakan dari bentukan kegiatan ini.