"Web"
sebagai medium itu sendiri merefleksikan pemahaman tentang
medium sebagai bagian dari representasi budaya. Penggunaannya
dalam pameran "Multiplicity" kali ini berpotensi
untuk di tarik ke pembicaraan yang lebih bersifat genealogis
membahas implikasi atas pilihan media web itu sendiri, dengan
merangkai pemahaman yang hendaknya di sadari ketika bersentuhan
dengan sebuah medium baru, sambil kemudian membicarakan
karya yang tengah dipamerkan di layar komputer anda.
Sejarah
penggunaan web di wilayah seni rupa, di mulai sekitar tahun
1994-1995, yang dikenal sebagai "the year art world
went online", pendapat ini dilansir dari pengamatan
Robert Atkins (penulis buku "Art speaks" Abbeville
press 1990) dalam artikel "State of the (On-line) "
yang di tulis untuk Art Forum April 1999, (www.artforum.com)
yang melihat bahwa penggunaan internet di dunia seni di
tahap awal masih berkisar sebagai sebuah medium untuk arsip,
yang tentu saja jauh lebih agresif dari sekadar arsip biasa.
Agresif, karena selain data yang umum di muat untuk dokumentasi,
web mampu membuatnya lebih interaktif. Data tidak hanya
dapat di lihat kembali, tapi sekaligus kita bisa melihat
perkembangan yang tengah berjalan sambil mendiskusikannya
langsung, terlebih karakter internet yang dapat di akses
bebas membuat data ini bisa dilihat oleh pemakai internet
di manapun. Atkins berkesaksian tentang hal tersebut dengan
menyebutkan proyek "the File" oleh Antonio Muntadas
yang memuat arsip interaktif atas kajian sosial dan kebudayaan
tentang sensorship serta arsip kerja "Conceptual Art"
(mulai pada tahun 1994-95 kehilangan sponpor tahun 1998)
dan yang masih bisa di tengok adalah ada'web (www.adaweb.com)
, situs yang mendistribusikan sekaligus memproduksi banyak
seniman yang bekerja di lingkungan web-art dari mulai Julia
Scher sampai "General Idea". Berarti secara genealogis
dapat dikatakan; fungsi "dokumentasi" yang lebih
"Advanced" melatar belakangi sejarah penggunaan
web-art.
Penggunaan
media dalam genealogis seperti ini dapat kita gunakan sebagai
"frame of reference" dalam melihat karya Bagus
Nyoman yang memuat olahan fotografi digital yang interaktif.
Anda bisa menikmati karya-karya fotografi digital tersebut
lengkap dengan suasana display yang personal, lebih dari
karya fotografi konvensional. Karya tersebut hadir dalam
karakter interaktif di beberapa frame foto digital, sehingga
anda dapat menemukan perubahan visual seiring perlakuan
interaktif dengan mouse Pc anda. Rangkaian karya tersebut
di akhiri dengan pemuatan "links" kepada situs
lain sebagai jendela referensial dalam memperhatikan kecenderungan
olahan karyanya. Di karya ini elemen interaktif menjadi
suplemen tersendiri dalam perlakuan karya fotografi digital
yang hadir, intensi untuk mengedepankan "dokumentasi
agresif " olahan digital fotografi lebih terasa, daripada
menghadirkan olahan web sebagai sebuah media utama.
Menengok
sebentar ke belakang, adalah Fotografi, yang di awal perkembangannya
membangkitkan perdebatan di wilayah estetis dengan sifat
akurasi gambar yang menjadi karakter utama, kajian tersebut
menghasilkan pemahaman atas obyektifitas representasi yang
di bawa oleh fotografi dan memposisikan medium baru tersebut
sebagai sebuah manifestasi penting dalam perkembangan wacana
"reproduksi-mekanis".
Fotografi,
ketika itu menjadi sebuah ikon yang mewakili jaman peralihan
menuju peradaban manusia yang bersifat mekanis, seiring
dengan kemunculan perkembangan revolusi industri yang di
dukung oleh semangat menjunjung tinggi prinsip modernitas
dan juga paham kapitalisme yang tumbuh hampir sejaman. Hal
itu menciptakan hierarki dalam perkembangan budaya reproduksi
yang direpresentasikan oleh mistifikasi atas benda produksi
dalam hubungannya dengan benda seni . Dalam hal ini medium
berperan sebagai "miles-stone" sekaligus manifestasi
dari representasi budaya di belakangnya.
Merefleksi
pada sejarah fotografi, web -art tumbuh dalam situasi yang
berbeda dalam semangat latar belakang penggunaan teknologi
informasi dan "pan-kapitalisme" yang bersemangat
"Globalisasi", membuat hierarki lebih tersentral
ke wilayah "komoditas-e-commerce", daripada hierarki
benda seni berkaitan dengan produksi. Artinya , ketika kita
berbicara tentang art world di wilayah internet, sangat
tidak relevan untuk memperhitungkan institusi kesenian klasik
seperti galeri-museum seni-kritikus-pendidikan seni dll,
sebagai pusat hierarki kesenian, anda bisa memuat apapun
di "syurga maya" elektrik ini untuk didistribusikan
secara agresif (oleh situs anda, dalam distribusi search
engine) ke wilayah yang paling personal (e-mail) dan mengklaimnya
sebagai "Seni(rupa)" tanpa ada yang protes dari
institusi kesenian manapun, dan upaya untuk mediasinya menggunakan
"bahasa" distribusi yang sama yang diupayakan
situs lain, sehingga hierarki kesenian jadi tidak penting
di bandingkan dengan hierarki "e-commerce" dalam
"on-line art world".
Situasi
"on-line art world" yang sulit melepaskan diri
dari hierarki "pasar global" itu sendiri, dapat
kita tangkap representasi-nya lewat karya Gustaff dan Ferly,
yang menggunakan idiom "pornografi" yang dengan
mafhum di ketahui oleh masyarakat pengguna internet dalam
penguasaan pasar internet di seluruh dunia (menurut www.devtran.com,
situs tutorial pembuatan web berbahasa indonesia, penggunaan
kata yang berhubungan dengan sex, masih menjadi daya tarik
utama agar di kenal di search engine). Web site dengan muatan
pornografi dalam segala variannya di internet melibatkan
perputaran modal yang tidak kecil di dunia. Ketika hadir
dalam pameran ini, ia merepresentasikan perilaku paradox
masyarakat tentang sex itu sendiri.
Ferly
Novriadi mengemasnya dalam bentuk "media player"
yang sering digunakan untuk me-"download" klip
dengan muatan seks yang vulgar -dan dapat anda kendalikan
temponya- memperlihatkan bagaimana komodifikasi wilayah
personal manusia yang di kuasai oleh konsumen. Pilihan tema
karyanya untuk pameran kali ini berpotensi mengundang pembicaraan
lebih lanjut tentang fenomena kekuasaan pasar atas "sex"
di dunia internet yang seolah non hierarkis.
Sedang
Gustaff dengan gamblang langsung menyuguhkan wilayah "abu-abu"
antara perlakuan benda seni sebagai benda artefak kebudayaan
atau memang links yang anda dapat "nikmati", sebagai
representasi permasalahan sosiologis seni di wilayah internet
yang tidak hanya hadir sebagai medium tapi sekaligus membawa
tatanan baru yang lain dari nilai2 "art world"
biasa.
Keduanya
me-representasikan wilayah tubuh dalam medan komoditas pasar
sebagai sebuah kecenderungan perlakuan terhadap tubuh. Dalam
wilayah media elektronik yang serba transparan ini, simpangan
terhadap nilai terus terjadi.
Nilai Estetis "web-based-art"
" Electric technology is directly related to our central
nervous system, so it's ridiculous to talk of "what
the public wants" played on its own nerves.... Once
we have surrendered our senses and nervous systems to the
private manipulation of those who would try to benefit from
taking a lease on our eyes and ears and nerves, we don't
really have any rights left. Leasing our eyes and ears and
nerves to commercial interests is like handing over the
common speech to a private corporation or giving the earth's
atmosphere to a company as a monopoly." --Marshall
McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man
Dalam
karya Adi dharma, yang menggunakan ikon Televisi dalam visualnya
yang serba datar-bersih, interaktif tidak berarti pengunjung
site berhak atas tayangan yang ia inginkan, ia menjadi bagian
"private manipulation" dari denir sebagai kreator
yang mencoba merangkai pemaknaannya atas visual yang muncul
sejalan dengan kontrol yang ada ( pada keyboard anda). Seperti
halnya televisi, ketidak berdayaan "audience"
yang dihadirkan dalam karya denir ada pada posisi ketika
tayangan demi tayangan menampilkan gambar yang pemaknaannya
bukan di pihak pemegang kendali "channel", ia
hadir silih berganti sebagai bagian dari keragaman budaya
gambar yang sehari-hari mengepung kita, tanpa bisa kita
tolak kehadirannya menjadi bagian dari kenyataan sehari-hari
manusia yang tumbuh dalam budaya konsumen yang tidak melihat
konsumer sebagai subyek, ia lebih sebagai obyek.
Nilai
estetika dari sebuah karya yang hadir dalam medium yang
sebelumnya memiliki nilai komunikasi elektronik seperti
web ini hendaknya di pahami sebagai nilai yang terkonstruksi
dari posisi medium yang diciptakan tidak sebagai medium
untuk kesenian, sehingga penawarannya untuk dunia kesenian
adalah sebuah tawaran yang terbuka untuk "mewadahi"
tapi dalam kondisi yang telah melekat sebagai bagian dari
karakter web-dan seluruh nilai yang termaktub dunia maya
ini. Dalam "Wadah" itulah tarik -menarik kepentingan
terjadi, mirip dengan wilayah politis medium "Tubuh",
yang juga memiliki posisi yang sama sebagai medium, ia tidak
pernah diciptakan dalam intensi kepentingan visual-pemanfaatannya
selalu menimbulkan perdebatan yang mengangkat pretensi lain
di balik pemanfaatannya dihubungkan dengan teks atas tubuh
itu sendiri.
Sejak
legitimasi atas medium "web" (mungkin lebih ringkas
saya pilihkan istilah web-art) ini berlangsung di Amerika
dalam pameran "online-offline" di dua museum seni
terkemuka di waktu yang tidak berjauhan; yakni pertama di
the San Francisco Museum of Modern Art dengan tajuk pameran
"010101: Art in Technological Times" yang di "Launching"
pada tanggal 1 Januari 2001 seperti tajuknya (010101) dan
pameran offline-nya pada 3 Maret -8 Juli , ( lihat di Net-Art
avatar-sfmoma.org./010101) dan di the Whitney Museum of
American Art bertajuk "BitStreams" pada 22 Maret-10
Juni, yang tidak seluruh karyanya menggunakan media internet,
pembicaraan tentang web-art berkembang dengan menyoroti
wilayah infrastruktur kesenian yang terbaharui dengan media
ini, mengaitkan pada dua pameran tersebut sebagai sebuah
referensi, perdebatan yang berpotensi muncul sebagai wacana
baru ternyata berkembang pesat, mengantipasi sebuah kemunculan
perubahan tata nilai kesenian yang baru.
Kurator
pameran BitStream Lawrence Rinder memberikan penawaran tersendiri
atas posisi medium baru ini sebagai, " ... creates
a paradigmatic shift tantamount to the invention of photography..."
yang bila anda membandingkan dengan apa yang saya coba refleksikan
dalam bagian awal tulisan ini, yang coba di tawarkan oleh
Rinder sebenarnya lebih mengarah kepada pemahaman nilai
estetis baru, karena ia meneruskan argumen yang di muat
di press release pameran itu seperti ini ..."This is
a watershed moment, one which will bring new, previously
unimagined, forms of artistic expression, as well as new
possibilities for more established forms..." .
Dalam
pengertian melihat web-art sebagai sebuah medium dengan
potensi legitimasi "established forms" yang lain,
dari segi visual, karya RE Hartanto dalam pameran web kali
ini merupakan jabaran wilayah visual baru dalam intensitas
"mencari medium lain". Karena yang terbaca dalam
kiprah kesenian lulusan studio lukis FSRD ITB ini, adalah
ke- aktif-an dalam mempergunakan medium lain, sebagai idiom
karyanya. Intensi ini terlihat jelas dalam jejak perjalanan
R.E. Hartanto yang saya ikuti sejak Tugas Akhir kelulusannya,
sampai kemenangannya dalam kompetisi Philip Morris dengan
"lukisan" yang ia gabungkan dengan perangkat elektronik
untuk membuat gambarnya bergerak-gerak secara otomatis.
Kecenderungan untuk menggunakan gambar bergerak- sebagai
bagian dari karyanya-mencapai tahapan tersendiri dalam perjalanan
kekaryaan Hartanto, yang sedang berada di Belanda ini. Karyanya
hadir dalam animasi gambar digital dengan idiom gambar yang
baru, lain dari idiom-idiom gambar yang kerap hadir dalam
karya-karya sebelumnya, meskipun tidak kehilangan identitas
visual dalam elemen visual yang telah menjadi karakternya
seperti pilihan warna, penyederhanaan bentuk, yang hadir
dalam artikulasi lain dalam bites layar komputer anda. Karakter
visual baru ter-artikulasi dalam wilayah kekaryaan di web
art ini, yang sayangnya baru dimanfaatkan wilayah visualnya
saja.
Kehadiran
web-art yang hanya diekspos dalam wilayah visualnya memang
tidak bisa dihindarkan, karena pijakan seorang seniman yang
telah terlegitimasi oleh institusi kesenian klasik seperti
Hartanto nampaknya harus berproses sebelum meninggalkan
nilai-nilai yang telah terlembagakan. Seperti juga sejarah
web-art itu sendiri yang di legitimasi secara "paradox"
oleh lembaga kesenian terkemuka seperti San Francisco MoMA
dan New york's Whitney MoAA, karena dianggap tidak mampu
me-ekspos ke-subversif-an sebuah medium dari internet ini,
kedua lembaga kesenian terkemuka dari USA itu lebih melegitimasi
karakter visual dari medium Web art.
Sehingga,
atas usaha legitimasi di wilayah ini, di tanggapi dengan
artikel yang ditulis oleh Barbara Pollack (penulis dan seniman
feminis dari New York), menggugat kurasi pameran tersebut
karena lebih mendatangkan pertanyaan tentang wilayah legitimasi
kuratorial yang dijalankan, sejak institusi klasik seperti
museum yang bersangkutan menjalankan prinsip kuratorial
yang menekankan pada aspek formal dalam melihat kecenderungan
penggunaan medium, poin kurasi yang dijelaskan menjadi kabur
ketika potensi media web-art jelas "subversif"
dibandingkan dengan medium yang telah establish.
Ke-"Subversif"-an
tersebut akan nampak jelas dari permukaan, bila anda membandingkan
medium klasik dengan web-based-art, memperhatikan sifat
media internet sebagai fenomena komunikasi mutakhir yang
merubah wajah jaman. Robert Atkins (dalam artikel yang sama
yang saya kutip di awal) menjelaskan elemen internet yang
kemudian menjadi elemen estetik bagi web-art ini dengan
4 hal utama yakni, "Navigation" (menggunakan "links"
hingga " Net" menjadi "Web" / jaringan)
"Interactivity" (memungkinkan interaksi majemuk
dengan komunitas majemuk) "Data bases" (yang telah
dikembangkan dari potensi dasar komputer sebagai penyimpan
data) dan "Interface" (fasilitas penghubung yang
memungkinkan bahasa program menjadi perilaku sederhana,
seperti "klik" dalam "browser"). Ada
contoh "karya" yang ia "Lampirkan" dalam
mengemukakan pendapatnya; seperti untuk "Navigation"
ia memilih "Heath Bunting-Read Me" (irational.org/_readme.html)
(1995) yang berisi tulisan yang setiap katanya adalah links,
untuk "Data bases" ia pilihkan "Art Crimes"
(graffity.org) dan www.adaweb.com yang memuat data seni
online dan data performance art sebagai karya juga, wilayah
"Interface" ia pilihkan karya dua seniman belgia-belanda
yang bernama Jodi keduanya, dalam www.jodi.org sebuah site
yang bila anda kunjungi anda akan kehilangan cursor anda
diantara ribuan cursor yang tiba-tiba muncul atau tiba-tiba
dikembalikan ke site sebelum anda mengunjungi tersebut,
dan "Interactivity" dengan karya Douglas Davis
dalam "The world first (and probably longest) Collaborative
Sentence" (math240.lehman.cuny.edu/art) yang berisi
situs kolaborative untuk semua orang sedunia dalam membuat
kalimat.
Tidak
berarti bahwa semua jenis web-art harus bertolak dari karya
yang di ketengahkan oleh Atkins sebagai mercusuar di bidang
ini, tapi karya2 tersebut mendukung argumennya tentang pengolahan
medium yang terekspos karakter unik mediumnya, sebagai media
online.
Proses
berkembangnya sebuah medium baru di dalam kerangka kerja
seniman2 muda indonesia di pameran multiplicity ini, bagaimanapun,
merefleksikan perlakuan medium pada tahapan awal di wilayah
kerja kesenian "kita" (saya agak jengah untuk
menyebutkan "indonesia" dalam kalimat ini, untuk
menghindari generalisasi) . Kesadaran ini muncul karena
meskipun akses internet di indonesia bukan hal yang sangat
baru, tetapi kesadaran untuk menjadikannya sebagai medium
kerja kesenian boleh dikatakan baru-apalagi yang dengan
pretensi kuat untuk mengusungnya sebagai sebuah pameran
seni rupa on line. Dari persentuhan sebuah komunitas dengan
medium yang baru ini potensi representasi masalah budaya
muncul.