"It's a Modern World", Adi Dharma. Flash interactive
"Exotic Erotica", Gustaff H. Iskandar. Thumbnail Gallery Post
"Self Portraits in Vector", R.E. Hartanto, Flash Animation
"Pump Her Up", Ferly Novriadi, Flash Interactive
"Untitled", Bagus Nyoman, Flash Interactive
     
   
     
 
 
Multiplicity was the first project of Bandung Center for New Media Arts, inviting five artists to participate an online exhibition at former site: www.translingual.org. This was a self-curated exhibition and more of a pilot project of an online based project. Now the url is unavailable, more information on the artworks, please contact us.
 
Participating artists:
Adi Dharma
Bagus Nyoman
Ferly Novriadi
Gustaff H. Iskandar
R.E. Hartanto

Writer:
Endy Sepkendarsyah

 
 
31 Maret 2002 - 30 April 2002
Pameran seni digital di translingual.org

Bandung Center for New Media Arts menyelenggarakan pameran web art mulai hari Minggu, 31 Maret 2002, dan berakhir pada tanggal 30 April 2002. Pameran ini ditampilkan online di halaman khusus di translingual.org. Seniman yang dipilih untuk mengikuti pameran ini adalah: Adi Dharma, R.E. Hartanto, Gustaff H. Iskandar, Ferly Novriadi dan Bagus Nyoman. Ulasan mengenai pameran ini akan dibuat oleh Syagini Ratnawulan, Tisna Sanjaya, Beni Sasmito, dan Endy Sepkendarsyah.

Web art adalah cabang kecil new media arts dimana seniman melihat peluang untuk membuat, mereproduksi dan memediasikan karya seni mereka, dengan dan melalui media komputer dan internet. Secara sederhana, web art adalah karya seni yang dibuat untuk dimasukkan dan ditampilkan di web.

Apakah yang sebenarnya disebut dengan web art, kapan web art terjadi, bagaimana ia terbentuk dan berkembang? Hubungan apa yang muncul antara web art dengan digital art? Tulisan Endy Sepkendarsyah akan menjawab masalah-masalah ini.

______________________

ADI Dharma adalah mahasiswa tingkat akhir di FSRD-ITB, Studio Seni Grafis. Denir menggeluti musik dan dunia komputer, khususnya internet. Karya Tugas Akhir yang sedang dirancang Denir adalah karya multimedia berbentuk video-klip.

R.E. Hartanto
, lulus dari FSRD-ITB, Studio Seni Lukis pada tahun 1998. Menjadi seniman independen dengan karya-karya digital, kini tinggal dan berkarya sementara di Amsterdam.

GUSTAFF H. Iskandar
, lulus dari FSRD-ITB, Studio Seni Patung, pada tahun 1999. Aktif di keorganisasian seni, kini bekerja di Trolley Magazine dan Bandung Center for New Media Arts, sekaligus menjadi seniman independen dengan karya-karya patung, instalasi dan digital.

FERLY Novriadi
, lulus dari FSRD-ITB, Studio Desain Tekstil pada tahun 2001. Kini bekerja sebagai art director di sebuah advertising di Jakarta.

BAGUS Nyoman
lulus dari FSRD-ITB, Studio Seni Patung tahun 1999, berkarya patung dan instalasi, menjadi seniman digital, tinggal dan berkarya di Jakarta. | info |

ENDY Sepkendarsyah
, mahasiswa FSRD-ITB, Studio Seni Patung. Aktif di bidang penulisan seni dan kurasi, tinggal dan berkarya di Bandung.

______________________

Representasi Medium

Endy Sepkendarsyah

Medium dan Representasi Budaya
Sebagai mana sebuah tulisan yang hadir mengikuti pameran, tulisan ini hadir sekadar menghantarkan pembicaraan tentang dunia seni rupa dalam kaitannya dengan kehadiran sebuah medium , dalam hal ini "web", dan sekelumit masalah yang memberikan gambaran tentang representasi tertentu atas potensi perbincangan medium dan dunia seni rupa.

"Web" sebagai medium itu sendiri merefleksikan pemahaman tentang medium sebagai bagian dari representasi budaya. Penggunaannya dalam pameran "Multiplicity" kali ini berpotensi untuk di tarik ke pembicaraan yang lebih bersifat genealogis membahas implikasi atas pilihan media web itu sendiri, dengan merangkai pemahaman yang hendaknya di sadari ketika bersentuhan dengan sebuah medium baru, sambil kemudian membicarakan karya yang tengah dipamerkan di layar komputer anda.

Sejarah penggunaan web di wilayah seni rupa, di mulai sekitar tahun 1994-1995, yang dikenal sebagai "the year art world went online", pendapat ini dilansir dari pengamatan Robert Atkins (penulis buku "Art speaks" Abbeville press 1990) dalam artikel "State of the (On-line) " yang di tulis untuk Art Forum April 1999, (www.artforum.com) yang melihat bahwa penggunaan internet di dunia seni di tahap awal masih berkisar sebagai sebuah medium untuk arsip, yang tentu saja jauh lebih agresif dari sekadar arsip biasa. Agresif, karena selain data yang umum di muat untuk dokumentasi, web mampu membuatnya lebih interaktif. Data tidak hanya dapat di lihat kembali, tapi sekaligus kita bisa melihat perkembangan yang tengah berjalan sambil mendiskusikannya langsung, terlebih karakter internet yang dapat di akses bebas membuat data ini bisa dilihat oleh pemakai internet di manapun. Atkins berkesaksian tentang hal tersebut dengan menyebutkan proyek "the File" oleh Antonio Muntadas yang memuat arsip interaktif atas kajian sosial dan kebudayaan tentang sensorship serta arsip kerja "Conceptual Art" (mulai pada tahun 1994-95 kehilangan sponpor tahun 1998) dan yang masih bisa di tengok adalah ada'web (www.adaweb.com) , situs yang mendistribusikan sekaligus memproduksi banyak seniman yang bekerja di lingkungan web-art dari mulai Julia Scher sampai "General Idea". Berarti secara genealogis dapat dikatakan; fungsi "dokumentasi" yang lebih "Advanced" melatar belakangi sejarah penggunaan web-art.

Penggunaan media dalam genealogis seperti ini dapat kita gunakan sebagai "frame of reference" dalam melihat karya Bagus Nyoman yang memuat olahan fotografi digital yang interaktif. Anda bisa menikmati karya-karya fotografi digital tersebut lengkap dengan suasana display yang personal, lebih dari karya fotografi konvensional. Karya tersebut hadir dalam karakter interaktif di beberapa frame foto digital, sehingga anda dapat menemukan perubahan visual seiring perlakuan interaktif dengan mouse Pc anda. Rangkaian karya tersebut di akhiri dengan pemuatan "links" kepada situs lain sebagai jendela referensial dalam memperhatikan kecenderungan olahan karyanya. Di karya ini elemen interaktif menjadi suplemen tersendiri dalam perlakuan karya fotografi digital yang hadir, intensi untuk mengedepankan "dokumentasi agresif " olahan digital fotografi lebih terasa, daripada menghadirkan olahan web sebagai sebuah media utama.

Menengok sebentar ke belakang, adalah Fotografi, yang di awal perkembangannya membangkitkan perdebatan di wilayah estetis dengan sifat akurasi gambar yang menjadi karakter utama, kajian tersebut menghasilkan pemahaman atas obyektifitas representasi yang di bawa oleh fotografi dan memposisikan medium baru tersebut sebagai sebuah manifestasi penting dalam perkembangan wacana "reproduksi-mekanis".

Fotografi, ketika itu menjadi sebuah ikon yang mewakili jaman peralihan menuju peradaban manusia yang bersifat mekanis, seiring dengan kemunculan perkembangan revolusi industri yang di dukung oleh semangat menjunjung tinggi prinsip modernitas dan juga paham kapitalisme yang tumbuh hampir sejaman. Hal itu menciptakan hierarki dalam perkembangan budaya reproduksi yang direpresentasikan oleh mistifikasi atas benda produksi dalam hubungannya dengan benda seni . Dalam hal ini medium berperan sebagai "miles-stone" sekaligus manifestasi dari representasi budaya di belakangnya.

Merefleksi pada sejarah fotografi, web -art tumbuh dalam situasi yang berbeda dalam semangat latar belakang penggunaan teknologi informasi dan "pan-kapitalisme" yang bersemangat "Globalisasi", membuat hierarki lebih tersentral ke wilayah "komoditas-e-commerce", daripada hierarki benda seni berkaitan dengan produksi. Artinya , ketika kita berbicara tentang art world di wilayah internet, sangat tidak relevan untuk memperhitungkan institusi kesenian klasik seperti galeri-museum seni-kritikus-pendidikan seni dll, sebagai pusat hierarki kesenian, anda bisa memuat apapun di "syurga maya" elektrik ini untuk didistribusikan secara agresif (oleh situs anda, dalam distribusi search engine) ke wilayah yang paling personal (e-mail) dan mengklaimnya sebagai "Seni(rupa)" tanpa ada yang protes dari institusi kesenian manapun, dan upaya untuk mediasinya menggunakan "bahasa" distribusi yang sama yang diupayakan situs lain, sehingga hierarki kesenian jadi tidak penting di bandingkan dengan hierarki "e-commerce" dalam "on-line art world".

Situasi "on-line art world" yang sulit melepaskan diri dari hierarki "pasar global" itu sendiri, dapat kita tangkap representasi-nya lewat karya Gustaff dan Ferly, yang menggunakan idiom "pornografi" yang dengan mafhum di ketahui oleh masyarakat pengguna internet dalam penguasaan pasar internet di seluruh dunia (menurut www.devtran.com, situs tutorial pembuatan web berbahasa indonesia, penggunaan kata yang berhubungan dengan sex, masih menjadi daya tarik utama agar di kenal di search engine). Web site dengan muatan pornografi dalam segala variannya di internet melibatkan perputaran modal yang tidak kecil di dunia. Ketika hadir dalam pameran ini, ia merepresentasikan perilaku paradox masyarakat tentang sex itu sendiri.

Ferly Novriadi mengemasnya dalam bentuk "media player" yang sering digunakan untuk me-"download" klip dengan muatan seks yang vulgar -dan dapat anda kendalikan temponya- memperlihatkan bagaimana komodifikasi wilayah personal manusia yang di kuasai oleh konsumen. Pilihan tema karyanya untuk pameran kali ini berpotensi mengundang pembicaraan lebih lanjut tentang fenomena kekuasaan pasar atas "sex" di dunia internet yang seolah non hierarkis.

Sedang Gustaff dengan gamblang langsung menyuguhkan wilayah "abu-abu" antara perlakuan benda seni sebagai benda artefak kebudayaan atau memang links yang anda dapat "nikmati", sebagai representasi permasalahan sosiologis seni di wilayah internet yang tidak hanya hadir sebagai medium tapi sekaligus membawa tatanan baru yang lain dari nilai2 "art world" biasa.

Keduanya me-representasikan wilayah tubuh dalam medan komoditas pasar sebagai sebuah kecenderungan perlakuan terhadap tubuh. Dalam wilayah media elektronik yang serba transparan ini, simpangan terhadap nilai terus terjadi.

Nilai Estetis "web-based-art"
" Electric technology is directly related to our central nervous system, so it's ridiculous to talk of "what the public wants" played on its own nerves.... Once we have surrendered our senses and nervous systems to the private manipulation of those who would try to benefit from taking a lease on our eyes and ears and nerves, we don't really have any rights left. Leasing our eyes and ears and nerves to commercial interests is like handing over the common speech to a private corporation or giving the earth's atmosphere to a company as a monopoly." --Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man

Dalam karya Adi dharma, yang menggunakan ikon Televisi dalam visualnya yang serba datar-bersih, interaktif tidak berarti pengunjung site berhak atas tayangan yang ia inginkan, ia menjadi bagian "private manipulation" dari denir sebagai kreator yang mencoba merangkai pemaknaannya atas visual yang muncul sejalan dengan kontrol yang ada ( pada keyboard anda). Seperti halnya televisi, ketidak berdayaan "audience" yang dihadirkan dalam karya denir ada pada posisi ketika tayangan demi tayangan menampilkan gambar yang pemaknaannya bukan di pihak pemegang kendali "channel", ia hadir silih berganti sebagai bagian dari keragaman budaya gambar yang sehari-hari mengepung kita, tanpa bisa kita tolak kehadirannya menjadi bagian dari kenyataan sehari-hari manusia yang tumbuh dalam budaya konsumen yang tidak melihat konsumer sebagai subyek, ia lebih sebagai obyek.

Nilai estetika dari sebuah karya yang hadir dalam medium yang sebelumnya memiliki nilai komunikasi elektronik seperti web ini hendaknya di pahami sebagai nilai yang terkonstruksi dari posisi medium yang diciptakan tidak sebagai medium untuk kesenian, sehingga penawarannya untuk dunia kesenian adalah sebuah tawaran yang terbuka untuk "mewadahi" tapi dalam kondisi yang telah melekat sebagai bagian dari karakter web-dan seluruh nilai yang termaktub dunia maya ini. Dalam "Wadah" itulah tarik -menarik kepentingan terjadi, mirip dengan wilayah politis medium "Tubuh", yang juga memiliki posisi yang sama sebagai medium, ia tidak pernah diciptakan dalam intensi kepentingan visual-pemanfaatannya selalu menimbulkan perdebatan yang mengangkat pretensi lain di balik pemanfaatannya dihubungkan dengan teks atas tubuh itu sendiri.

Sejak legitimasi atas medium "web" (mungkin lebih ringkas saya pilihkan istilah web-art) ini berlangsung di Amerika dalam pameran "online-offline" di dua museum seni terkemuka di waktu yang tidak berjauhan; yakni pertama di the San Francisco Museum of Modern Art dengan tajuk pameran "010101: Art in Technological Times" yang di "Launching" pada tanggal 1 Januari 2001 seperti tajuknya (010101) dan pameran offline-nya pada 3 Maret -8 Juli , ( lihat di Net-Art avatar-sfmoma.org./010101) dan di the Whitney Museum of American Art bertajuk "BitStreams" pada 22 Maret-10 Juni, yang tidak seluruh karyanya menggunakan media internet, pembicaraan tentang web-art berkembang dengan menyoroti wilayah infrastruktur kesenian yang terbaharui dengan media ini, mengaitkan pada dua pameran tersebut sebagai sebuah referensi, perdebatan yang berpotensi muncul sebagai wacana baru ternyata berkembang pesat, mengantipasi sebuah kemunculan perubahan tata nilai kesenian yang baru.

Kurator pameran BitStream Lawrence Rinder memberikan penawaran tersendiri atas posisi medium baru ini sebagai, " ... creates a paradigmatic shift tantamount to the invention of photography..." yang bila anda membandingkan dengan apa yang saya coba refleksikan dalam bagian awal tulisan ini, yang coba di tawarkan oleh Rinder sebenarnya lebih mengarah kepada pemahaman nilai estetis baru, karena ia meneruskan argumen yang di muat di press release pameran itu seperti ini ..."This is a watershed moment, one which will bring new, previously unimagined, forms of artistic expression, as well as new possibilities for more established forms..." .

Dalam pengertian melihat web-art sebagai sebuah medium dengan potensi legitimasi "established forms" yang lain, dari segi visual, karya RE Hartanto dalam pameran web kali ini merupakan jabaran wilayah visual baru dalam intensitas "mencari medium lain". Karena yang terbaca dalam kiprah kesenian lulusan studio lukis FSRD ITB ini, adalah ke- aktif-an dalam mempergunakan medium lain, sebagai idiom karyanya. Intensi ini terlihat jelas dalam jejak perjalanan R.E. Hartanto yang saya ikuti sejak Tugas Akhir kelulusannya, sampai kemenangannya dalam kompetisi Philip Morris dengan "lukisan" yang ia gabungkan dengan perangkat elektronik untuk membuat gambarnya bergerak-gerak secara otomatis. Kecenderungan untuk menggunakan gambar bergerak- sebagai bagian dari karyanya-mencapai tahapan tersendiri dalam perjalanan kekaryaan Hartanto, yang sedang berada di Belanda ini. Karyanya hadir dalam animasi gambar digital dengan idiom gambar yang baru, lain dari idiom-idiom gambar yang kerap hadir dalam karya-karya sebelumnya, meskipun tidak kehilangan identitas visual dalam elemen visual yang telah menjadi karakternya seperti pilihan warna, penyederhanaan bentuk, yang hadir dalam artikulasi lain dalam bites layar komputer anda. Karakter visual baru ter-artikulasi dalam wilayah kekaryaan di web art ini, yang sayangnya baru dimanfaatkan wilayah visualnya saja.

Kehadiran web-art yang hanya diekspos dalam wilayah visualnya memang tidak bisa dihindarkan, karena pijakan seorang seniman yang telah terlegitimasi oleh institusi kesenian klasik seperti Hartanto nampaknya harus berproses sebelum meninggalkan nilai-nilai yang telah terlembagakan. Seperti juga sejarah web-art itu sendiri yang di legitimasi secara "paradox" oleh lembaga kesenian terkemuka seperti San Francisco MoMA dan New york's Whitney MoAA, karena dianggap tidak mampu me-ekspos ke-subversif-an sebuah medium dari internet ini, kedua lembaga kesenian terkemuka dari USA itu lebih melegitimasi karakter visual dari medium Web art.

Sehingga, atas usaha legitimasi di wilayah ini, di tanggapi dengan artikel yang ditulis oleh Barbara Pollack (penulis dan seniman feminis dari New York), menggugat kurasi pameran tersebut karena lebih mendatangkan pertanyaan tentang wilayah legitimasi kuratorial yang dijalankan, sejak institusi klasik seperti museum yang bersangkutan menjalankan prinsip kuratorial yang menekankan pada aspek formal dalam melihat kecenderungan penggunaan medium, poin kurasi yang dijelaskan menjadi kabur ketika potensi media web-art jelas "subversif" dibandingkan dengan medium yang telah establish.

Ke-"Subversif"-an tersebut akan nampak jelas dari permukaan, bila anda membandingkan medium klasik dengan web-based-art, memperhatikan sifat media internet sebagai fenomena komunikasi mutakhir yang merubah wajah jaman. Robert Atkins (dalam artikel yang sama yang saya kutip di awal) menjelaskan elemen internet yang kemudian menjadi elemen estetik bagi web-art ini dengan 4 hal utama yakni, "Navigation" (menggunakan "links" hingga " Net" menjadi "Web" / jaringan) "Interactivity" (memungkinkan interaksi majemuk dengan komunitas majemuk) "Data bases" (yang telah dikembangkan dari potensi dasar komputer sebagai penyimpan data) dan "Interface" (fasilitas penghubung yang memungkinkan bahasa program menjadi perilaku sederhana, seperti "klik" dalam "browser"). Ada contoh "karya" yang ia "Lampirkan" dalam mengemukakan pendapatnya; seperti untuk "Navigation" ia memilih "Heath Bunting-Read Me" (irational.org/_readme.html) (1995) yang berisi tulisan yang setiap katanya adalah links, untuk "Data bases" ia pilihkan "Art Crimes" (graffity.org) dan www.adaweb.com yang memuat data seni online dan data performance art sebagai karya juga, wilayah "Interface" ia pilihkan karya dua seniman belgia-belanda yang bernama Jodi keduanya, dalam www.jodi.org sebuah site yang bila anda kunjungi anda akan kehilangan cursor anda diantara ribuan cursor yang tiba-tiba muncul atau tiba-tiba dikembalikan ke site sebelum anda mengunjungi tersebut, dan "Interactivity" dengan karya Douglas Davis dalam "The world first (and probably longest) Collaborative Sentence" (math240.lehman.cuny.edu/art) yang berisi situs kolaborative untuk semua orang sedunia dalam membuat kalimat.

Tidak berarti bahwa semua jenis web-art harus bertolak dari karya yang di ketengahkan oleh Atkins sebagai mercusuar di bidang ini, tapi karya2 tersebut mendukung argumennya tentang pengolahan medium yang terekspos karakter unik mediumnya, sebagai media online.

Proses berkembangnya sebuah medium baru di dalam kerangka kerja seniman2 muda indonesia di pameran multiplicity ini, bagaimanapun, merefleksikan perlakuan medium pada tahapan awal di wilayah kerja kesenian "kita" (saya agak jengah untuk menyebutkan "indonesia" dalam kalimat ini, untuk menghindari generalisasi) . Kesadaran ini muncul karena meskipun akses internet di indonesia bukan hal yang sangat baru, tetapi kesadaran untuk menjadikannya sebagai medium kerja kesenian boleh dikatakan baru-apalagi yang dengan pretensi kuat untuk mengusungnya sebagai sebuah pameran seni rupa on line. Dari persentuhan sebuah komunitas dengan medium yang baru ini potensi representasi masalah budaya muncul.