Sebuah acara yang diberi tajuk “SENI:
Singapore 2004, Art & The Contemporary”, digelar
di Kota Singapura sejak tanggal 1 Oktober yang lalu sampai
dengan 28 November 2004 yang akan datang. Selama hampir
2 bulan penuh publik di kota ini disuguhi dengan berbagai
pameran seni rupa, workshop, simposium, dan beberapa proyek
seni ruang publik yang digelar menyebar di beberapa tempat.
Acara ini juga dianggap ikut menandai berbagai pergeseran
yang terjadi di dalam praktik seni rupa, terutama yang tengah
berlaku di wilayah regional Asia Tenggara.
Saat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Prof.
Chua Beng Huat yang bertindak sebagai direktur artistik
dari program ini, banyak seniman di Asia yang memilih untuk
membuat karya-karya yang temporal dan bergantung pada dimensi
ruang dan waktu yang spesifik. Menggantikan praktik ataupun
kerja kreatif yang biasanya terfokus pada bentukan obyek
estetik yang permanen, menuju kerja individu ataupun kolektif
yang lebih menekankan aspek kesementaraan (ephemeral) dan
aksi kritik terhadap berbagai hal yang berlaku dalam kehidupan
sehari-hari. Termasuk praktik seni rupa yang saat ini dianggap
sudah terlampau mapan. Melalui berbagai macam medium, baik
itu medium yang dinilai konvensional (seni lukis dan seni
patung), sampai pada medium yang dinilai lebih baru –
yang banyak menggunakan instrumen elektronik dan digital,
seperti misalnya video, komputer, dan internet.
Sebagai pembuka, pada tanggal 1 sampai 3
Oktober 2004 yang lalu digelar sebuah acara yang bernama
Insomnia48. Bertempat di gedung Old Parliament House (The
Art House) yang terletak di pusat Kota Singapura, acara
yang berdurasi 48 jam ini diisi dengan berbagai peristiwa
seni, dari mulai performance, clubbing, pertunjukan musik,
teater, happening, pameran video, instalasi, drawing, workshop,
dan berbagai interaksi sosial yang dipandu oleh Ong Keng
Sen dari kelompok Theatreworks, yang bertindak sebagai kurator
dari program ini. Melengkapi keseluruhan acara, selain diadakan
sejumlah diskusi dengan para seniman, juga dilangsungkan
sebuah acara yang bernama “Sleepless in Singapore”
yang ditangani langsung oleh Ong Keng Sen yang berkolaburasi
dengan About TV, sebuah kelompok independen yang berdomisili
di Kota Bangkok. Kelompok yang biasa menyiarkan berbagai
program seni melalui internet ini, menyiarkan rangkaian
reportase dan wawancara para seniman peserta Insomnia48
langsung secara online melalui fasilitas koneksi broadband.
Dalam acara ini juga diundang sejumlah seniman,
baik secara individu maupun kelompok, yang berasal dari
beberapa kota di wilayah Asia Tenggara. Kontingen dari Thailand
diwakili oleh Joei Apichatpong dan Sakarin Krue-on (Bangkok),
serta Araya Rasdjarmrearnsook dan kelompok Sok Sak (Chiang
Mai). Sementara itu, dari Indonesia diwakili oleh para seniman
yang juga berasal dari beberapa kota semisal Agung Kurniawan,
Jompet, Venza and The House of Natural Fiber, dan Teater
Garasi (Yogyakarta); kelompok Biosampler dan Ripple Magazine
(Bandung); serta ruangrupa (Jakarta). Bertindak sebagai
tuan rumah, dari Singapura ditampilkan beberapa karya dari
Lim Kok Boon, Su-En Wong, Kelompok Tsunamii.net dan Kill
Your TeleVision (KYTV). Selain itu juga diadakan workshop
arsitektur yang dipandu oleh Hans Brouwer, Richard Ho, Maria
Warner Wong, dan Yip Yuen Yong, yang melakukan eksplorasi
ruang 3 dimensi dengan melibatkan publik secara terbuka.
Selama 3 hari 2 malam, secara simultan para
seniman ini berinteraksi langsung dengan para pengunjung
melalui karya-karya mereka. Simak misalnya karya Jompet
yang berjudul 1hr 2b oth3r yang dikerjakan selama kurun
waktu 2003-2004. Melalui karya yang sempat dipamerkan di
beberapa tempat ini, Jompet menawarkan sensasi komunikasi
interaktif melalui permainan simulasi labirin yang melibatkan
2 orang partisipan yang mengenakan tutup kepala, yang dilengkapi
dengan piranti kamera elektronik buatannya. Kelompok Sok
Sak menawarkan proyek Zog Zag Village yang merubah pelataran
gedung Old Parliament House menjadi area perkampungan yang
diisi dengan berbagai aktifitas seperti memasak, makan,
ngobrol, menonton peragaan busana dan pertunjukan musik
yang diisi oleh band lokal dari Singapura. Sementara itu
– melalui proyek Pop Station – kelompok KYTV
mengajak publik untuk membuat sendiri video klip mereka
dengan terlibat langsung dalam proses produksi, yang memungkinkan
setiap orang untuk menjadi “bintang” videoklip
secara instan.
Dalam acara ini, Teater Garasi melakukan
serangkaian pertunjukan dengan judul “The Death of
Waktu Batu”, yang mencoba merespon ruangan interior
gedung dengan melibatkan berbagai kombinasi dari gestur
tubuh, beberapa properti pertunjukan, soundscape, tata lampu
dan proyeksi video. Selanjutnya, dalam sebuah ruangan yang
konon pernah digunakan oleh bekas PM Singapura Lee Kuan
Yew, kelompok Tsunamii.net menyelenggarakan workshop game
komputer yang dikuti oleh kurang lebih 15 orang partisipan.
Di ruangan yang sama, dipamerkan sebuah lukisan terbaru
karya Lim Kok Bok yang berjudul “Potrait of a Prime
Minister, no. 1”, yang menampilkan sosok bekas perdana
menteri Lee Kuan Yew ketika masih muda dan trendy. Pada
ruangan yang lain, kita dapat menikmati karya dari Araya
Rasdjarmrearnsook yang berjudul “Reading to Corpses”
(instalasi video). Dalam karya ini ia menampilkan 3 buah
proyeksi video dari beberapa tubuh orang mati, yang tergeletak
di kamar mayat. Dalam video tersebut, sesekali Araya muncul
dan membacakan puisi untuk mereka dengan suara yang lembut
dan perlahan. Karyanya berhasil merubah suasana ruang yang
semula dingin dan angkuh, menjadi ruangan yang senyap dan
cenderung puitik.
Bertolak belakang dengan Araya, selama tiga
hari berturut-turut kelompok Biosampler menghentak Insomnia48
melalui proyeksi video dan imaji abstrak yang dihasilkan
oleh over head projector, yang tampil bersautan dengan bermacam
sampling suara yang dihasilkan oleh para DJ, musisi dan
seniman suara yang berasal dari Kota Bandung. Melalui proyek
no_placia (dipinjam dari novel Thomas Moore yang berjudul
Utopia), kelompok ini tampil berkolaborasi dengan Hendy
Hertiasa (Party Maker, Inc.), serta Krisgath dan Ademus
dari kelompok EAT yang juga berasal dari Bandung. Di hari
terakhir, Biosampler berkolaburasi dengan Teater Garasi,
menghadirkan pertunjukan spontan yang berhasil mencuri perhatian
sebagian besar pengunjung yang hadir pada saat itu.
Keberadaan acara Insomnia48 dalam acara
“SENI: Singapore 2004, Art & The Contemporary”,
mendapatkan perhatian secara khusus mengingat acara ini
berhasil mengintervensi struktur sosial Kota Singapura yang
selama ini dikenal serba formal dan kaku. Konon hal ini
sejalan dengan kebijakan publik pemerintah Kota Singapura,
yang ingin menjadikan citra kota ini menjadi lebih santai
dan fleksibel. Keberagaman praktik estetik yang ditawarkan
oleh para seniman peserta acara ini tampaknya untuk sementara
berhasil mencairkan iklim Kota Singapura, yang selama ini
melulu didominasi oleh berbagai aktifitas ekonomi, yang
cenderung menggiring warga kota menjadi sosok yang pragmatis
dan kurang manusiawi. Di sisi lain, tampaknya acara ini
juga berupaya menepis tudingan akan hegemoni praktik seni
rupa kontemporer yang cenderung linier dan homogen. Dalam
Insomnia48, beragam kecenderungan artistik yang dimiliki
oleh masing-masing seniman saling berbaur, bernegosiasi
dan berinteraksi secara kreatif sehingga mampu menghasilkan
kombinasi ekspresi artistik yang segar dan baru.
Selain acara Insomnia48, masih dalam rangkaian
perhelatan “SENI: Singapore 2004, Art & The Contemporary”,
juga diadakan berbagai kegiatan di beberapa tempat. Diantaranya
adalah pameran yang bertajuk “HomeFronts” yang
diselenggarakan di Singapore Art Museum (1 Okt – 28
Nov 2004). Pameran ini menampilkan karya dari berbagai kelompok
seni yang berasal dari Asia Tenggara semisal The Artist
Village (Singapura), Spacekraft (Malaysia), Big Sky Mind
(Philipina), Project 304 (Thailand), Taring Padi (Indonesia),
dsb. Kemunculan kelompok-kelompok ini dianggap sebagai bagian
dari respon terhadap berbagai ketegangan sosial yang disebabkan
oleh tingginya tingkat urbanisasi dan pengaruh kapitalisme
global, yang saat ini dianggap dominan kehadirannya di Asia
Tenggara. Selain itu, di tempat yang sama juga diselenggarakan
sebuah pameran video art yang berjudul “Moving Pictures”
(1 Okt – 28 Nov 2004). Dalam pameran ini ditampilkan
beberapa karya video dari Arahmaiani, Heman Chong, Feng
Mengbo, Krisna Murti, Valay Shende, dll.
Berbagai acara pameran, workshop, proyek
seni, dan pertunjukan dalam acara ini juga dilengkapi dengan
sebuah simposium yang membahas berbagai persoalan seni dengan
tema besar “Art and the Contemporary”, yang
akan diisi oleh para pembicara yang berasal dari beragam
latar belakang disiplin ilmu. Bertempat di Singapore Art
Museum, acara yang akan berlangsung sejak tanggal 20 –
21 November 2004 ini akan dibuka oleh Prof. Chua Beng Huat
dan menampilkan pembicara antara lain Assoc. Prof. Rajeev
Patke (Singapura), Chaitanya Sambrani (India), Jim Supangkat
(Indonesia), Wong Hoy Cheong (Kuala Lumpur/London) dan Jose
Tence Ruiz (Philipina). Melalui acara SENI: Singapore 2004,
Art & The Contemporary, kita bisa saja menduga-duga
bahwa saat ini tampaknya Singapura tengah berusaha untuk
mengambil posisi terdepan dalam perkembangan seni rupa di
wilayah regional Asia Tenggara. Dengan bekal kekuatan ekonomi
yang cenderung stabil, ambisi semacam ini tentu saja bisa
kita anggap wajar. Sejak lama kita sudah tahu bahwa di era
modern, perkembangan seni memang selalu terkait dengan masalah
ekonomi.
**penulis adalah seniman, bekerja untuk
Bandung Center for New Media Arts.