Poros-poros kegiatan ini
dimaksudkan untuk saling mencakup satu dengan lainnya.
Sejarah
Pada bulan Nopember 2001, Bili Bidjoka [perupa Kamerun yang
tinggal di Brussels] dan Goddy Leye diminta untuk mengatur
sebuah workshop internasional yang melibatkan 23 orang seniman
dari berbagai negara di daerah tersebut. Hasilnya terbukti
amat populer dan ada permintaan yang kuat dari masyarakat
setempat untuk membuat proyek kesenian lebih lanjut.
Masyarakat Bessengue terorganisasi
dalam sebuah komite pembangunan yang mencari pemecahan masalah
yang mereka hadapi dan mereka pikir, seni kontemporer seharusnya
memainkan peranan tertentu dalam membentuk pandangan masyarakat.
Interaksi antara seniman internasional dengan penduduk dan
seniman lokal tidak sering terjadi. Proyek Bessengue City
berusaha mewujudkan hal itu.
Rencana jangka panjang yang
dituju adalah menyiapkan sebuah pusat new media arts yang
bisa dijangkau seniman-seniman di Afrika Tengah melalui
diskusi, penyajian, workshop, residensi singkat dan seminar
ilmu pengetahuan dan keahlian teknologi baru di dalam wacana
seni rupa kontemporer.
Stasiun Radio
Sebuah stasiun radio eksperimental dengan jangkauan sekitar
1 km akan dibangun dengan menggunakan teknologi yang murah
dan sederhana. Remaja dari daerah sekitar akan menjalankan
radio ini selama masa proyek, menyiarkan informasi yang
relevan atau musik dari daerah tersebut. Sekelompok "jurnalis"
akan dibentuk berdasarkan ketertarikan komunikasi mereka
dan kemampuan bekerja sama. Seniman akan membangun sebuah
program dan jadwal siaran dengan para remaja. Ini akan menjadi
sumber informasi utama dalam pembangunan proyek. Beberapa
materi seperti jingle akan dibuat di Amsterdam semata-mata
untuk kepentingan proyek.
Gubuk
Di daerah ini, gubuk sederhana yang tidak tahan lama yang
dibangun dengan barang-barang temuan sudah lazim ditemukan.
Pembangunan gubuk serupa dengan sentuhan dan tujuan artistik
dengan menggunakan barang-barang temuan dari tempat-tempat
yang berbeda tak diragukan lagi akan merangsang perenungan
arsitektur, perumahan dan gubuk. Seluruh pertanyaan ini
akan memainkan peranan penting dalam menjabarkan kembali
apa yang akan menjadi pemandangan kota di Bessengue.
Pembuatan Film
Di tempat ini, para remaja menerima begitu banyak informasi
visual dan cerapan dari film-film Hollywood yang ditampilkan
dalam sebuah ruangan kecil yang disebut "Klub Video".
Kebanyakan film-film ini adalah film bajakan yang datang
dari Asia melalui Nigeria. Kami bermaksud mengadakan sebuah
pengamatan, film apa yang paling populer di sini dengan
membuat daftar, lalu memilih film yang berada di puncak
daftar tersebut dan membuat ulang satu adegan dari film
tersebut dengan melibatkan penduduk lokal. Adegan ini akan
disunting dan kemudian ditampilkan di Klub Video Bessengue.
Poster dengan desain khusus untuk pemutaran perdana film
ini akan memuat informasi mengenai film tersebut dan seluruh
proyek.
Komunikasi Sederhana
Satu orang subyek di Bessengue akan dipilih untuk "berbincang-bincang"
dengan satu orang subyek lain di Bandung, Indonesia. Kami
memilih satu orang wanita di masing-masing tempat, berusia
antara 35 hingga 45 tahun, yang sudah berkeluarga dan memiliki
anak. Komunikasi sederhana akan dibentuk melalui kontak
di Bandung dan Bessengue, pada saatnya kedua subyek ini
akan saling bertegur sapa secara tidak langsung dan hasilnya
akan ditayangkan di internet. Di akhir masa proyek, masing-masing
subyek akan menerima sebuah buku yang berisi informasi secukupnya
mengenai proses komunikasi mereka.
Poster
Gambar-gambar dari sekelompok orang di Bessengue diambil
pada kunjungan Goddy terakhir di bulan Desember 2001. Gambar-gambar
ini akan disunting dan diubah melalui program komputer,
dicetak dan ditempelkan di beberapa tempat di Bessengue.
Melalui proyek ini, orang-orang yang dalam kehidupan sehari-harinya
berada di balik layar akan diangkat ke permukaan sosial
masyarakat melalui seni. Beberapa orang penduduk Bessengue
akan berubah menjadi ikon-ikon sementara.
Alasan
Seni biasanya dirancang di tempat-tempat dimana penduduk
seperti di Bessengue dikebelakangkan. Bila beberapa seniman
sewaktu-waktu memikirkan mereka, biasanya sebuah proyek
dilakukan atas nama seniman tanpa benar-benar melibatkan
penduduk. Di sisi lain, lembaga-lembaga dari Brettonwoods
masih mempercayai bahwa rencana pembangunan tidak perlu
dipenuhi dengan isu budaya. Alih-alih menggunakan isu-isu
budaya, pembangunan dicukupi untuk investasi keuangan.
Gagasan bahwa seni bisa
menjadi alat untuk membentuk apa yang mereka sebut sebagai
pembangunan, dibawa oleh masyarakat Bessengue sendiri melalui
komite pembangunan mereka. Proyek Bessengue City tak ragu
lagi akan membantu untuk menemukan sebuah potret daerah
baru dan orang-orangnya, arsitektur dan perencanaan urban
akan diselidiki dan dipertanyakan melalui pembangunan gubuk,
sementara poster dan pembuatan ulang film akan memasukkan
penduduk setempat ke dalamnya.
Seni dan Isu Sosial
Seni tidak berpura-pura untuk memecahkan masalah disini.
Seni semata-mata hadir untuk membentuk pandangan-pandangan
tertentu saja.
Para Seniman
Empat orang seniman, sementara ini tinggal dan berkarya
di Amsterdam, Negeri Belanda, akan terlibat dalam proyek
ini. Mereka adalah: James Beckett, datang dari Afrika Selatan,
dilahirkan di Zimbabwe dan memiliki paspor Inggris. Secara
alamiah James merupakan persona serba-budaya dan secara
sempurna akan cocok dengan proyek yang melibatkan orang-orang
dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tetapi
memutuskan untuk membentuk sebuah kesamaan masa depan. James
banyak bekerja dengan alat-alat elektronik dan amat antusias
dengan gagasan mendirikan sebuah stasiun untuk penduduk
Bessengue. R.E. Hartanto, datang dari Indonesia, bekerja
dengan komputer dan internet. Film yang dibuat di Bessengue
bisa jadi akan ditampilkan di internet dalam waktu dekat.
Jesus Palomino, datang dari Spanyol dan amat terlibat dengan
isu-isu di sekitar jenis arsitektur yang spesifik, gubuk
untuk tuna wisma dan bangunan-bangunan lain yang bersifat
rapuh dan sementara. Jesus bermaksud mengajukan karya-karyanya
dengan kenyataan yang ada di Bessengue. Goddy Leye, datang
dari Kamerun dan terlibat dalam proyek-proyek sebelumnya
yang dibuat di daerah tersebut, Goddy bermaksud menyingkapkan
keindahan Bessengue melalui film.